Salah satu air tejun di Leong Timur, Tanjung, KLU, yang masih terbungkus alami.

Dua Tebing, Tiga Air Terjun, di Tiga Leong

Leong, kalimat yang cukup akrab di telinga. Bermakna banyak hal dan cukup universal. Sebagian warga kota Mataram mengidentikkan Leong dengan juragan miras di perbatasan Jalan Langko dan Jalan Pejanggik. Sedangkan di kuping marga Thionghoa, Leong bermakna Singa. Atau Lion dalam bahas Inggris yang berarti Singa.

Jalan penghubung di dalam kawasan perkebunan coklat Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

Jalan penghubung di dalam kawasan perkebunan coklat Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

Beda halnya dengan warga Lombok Barat, Leong adalah salah satu dusun perbukitan di kawasan hutan Gunungsari. Tepatnya, diatas Desa Mambalan. Gawah Leong, demikian masyarakat setempat menyebut kawasan hutan itu di bawah Kubur Suri. Bukit berbentuk W jika dilihat dari kota Mataram.

Di kuping warga Lombok Utara, Leong juga berarti kawasan hutan. Yang di dalamnya ada tiga dusun di Desa Tegal Maja. Desa yang delapan dusunnya dihuni warga Budhis dan tiga dusunnya dihuni warga Muslim.

Dulu, hanya ada satu Leong di Tegal Maja. Kini, seiring semangat reformasi di Lombok Utara, Leong membelah diri menjadi tiga. Leong Barat, Leong Tengah, dan Leong Timur.

Uniknya, Tegal Maja ini merupakan salah satu kantong Budhis bersuku Sasak di Lombok Utara. Di sini, warga Budhis selalu menang dalam Pilkades. Alhasil, warga Tiga Leong selalu menjadi minoritas. Wacana pemekaran untuk desa Leong pun sudah disuarakan.

Syukurnya, soal pembagian jatah pembangunan, warga Tiga Leong ini tergolong mendapat prioritas khusus. Akses jalan yang dulu buruk, kini masih cukup mulus. Meski masih ada beberapa kilometer jalan penghubung antar Leong yang masih licin dan rusak.

Menariknya, Tiga Leong ini merupakan dusun penyangga kehidupan, dan sumber air bagi warga Tegal Maja. Bahkan, bagi warga Lading-Lading dan ibu kota Lombok Utara, Tanjung. Artinya lagi, Leong memiliki posisi strategis dan penting dalam garis bentang alam di jantung Lombok Utara ini.

Tebing Leong, Tanjung, Lombok Utara.

Tebing Leong, Tanjung, Lombok Utara.

Lantas ada apa di Tiga Leong?

Pertanyaan ini cukup lama muncul di kepala. Bersama, empat pemuda kota asal San Murep (Perumnas, Mataram) (Anam Hu, Aweng, Gozi, dan Alvin),paket one day trip ini dimulai. Dengan niat, mencoba menggali potensi berlibur di Tiga Leong, Desa Tagal Maja, Tanjung, Lombok Utara.

Menggali potensi satu dusun Leong saja membutuhkan energi cukup banyak. Adrenalin pun cukup tersulut. Serunya, jika piknik sehari ini dilakukan dengan numpang nginep di rumah penduduk. Merasakan hangatnya keramahan warga Leong.

Padahal, Sabtu sore itu, cuaca cukup ekstrim. Hujan lebat memaksa perjalanan kami ke Dusun Leong Timur. Dusun yang dipimpin Kadus 24 tahun yang akrab disapa Ardin.  Jaraknya, sekitar tujuh sampai sembilan kilometer dari Desa Tanjung, ibukota KLU.

Di sore yang siap hujan itu, jam diantar mantan juragan coklat dari Lading Lading, Hendra Wiraksa. Kami terdampar manis di sekenem berugak samping lapangan bulu tangkis, milik Adi.

Seperti halnya Hendra, ayah satu putri ini juga dikenal sebagai salah satu tokoh muda setempat. ‘’Adi ini salah satu aktivis lingkungan di kawasan Leong ini,’’ kata Hendra mengenalkan kami kepada pemuda 34 tahun murah senyum itu.

Sejurus kemudian, Adi membeberkan kondisi sebagian kawasan hutan Leong. Baik kawasan hutan lindung yang dikelola masyarakat, maupun hutan lindung yang sudah dijarah oknum masyarakat. Adi mengakui, sebagian kawasan hutan sekitar Tiga Leong itu kondisinya parah.

‘’Disini, kami punya rotan, kami punya sungai, dan kami punya tebing. Kami juga tetap berupaya menjaga hutan kami agar tidak dijarah orang-orang tidak bertanggung jawab. Bahkan, burung-burung berusaha kami jaga untuk tetap bertengger di pohon-pohon,’’ tutur Ardin, penuh semangat.

Air terjun pertama yang ada goanya di Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

Air terjun pertama yang ada goanya di Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

Malam itu, sebagian dari kami terlelap dininabobokan hujan dan dinginnya udara lembah Leong. Sebagian lainnya, memilih begadang dan bercerita sambil males-malesan.

Paginya, Adi dan Pak  Kadus sudah siap menjadi guide piknik kami. Sesuai permintaan kami, perjalanan di dalam kampung Leong Timur ini dimulai dari tebing.

Ya, tebing itu jaraknya hanya 10 menit dari berugak tempat kami menginap. Tebing itu menjulang angker setinggi sekitar 40 sampai 60 meter. Cukup menantang untuk pecinta olahraga panjat tebing yang notabene belum ada di Lombok. Kalau untuk refling, latihan caving dan latihan vertical rescue, tebing Leong ini rekomended banget.

Selain tebing itu, ada juga tebing kedua, Batu Asak. Letaknya persis di atas Leong Timur. Konon, dulu tebing Batu Asak ini banyak dipenuhi batu berwarna hijau yang biasa dipakai mengasah pisau.

Rapting, olahraga arus deras ini terlintas di kepala melihat tebing yang dibawahnya ada sungai Leong. Karena hari itu habis diguyur hujan, sungai Leong yang mengalir sampai Tanjung itu debitnya terlihat cocok untuk arung jeram atau kayaking.

Hanya beberapa meter ke arah hulu, dari tebing itu ada air terjun. Dua aliran anak sungai yang terjun bersama di sungai utama Leong. Tidak terlalu tingginya sih. Sekitar 15 meteran.

Asiknya, di balik air terjun pertama ini ada goa-nya. Goa buntu berinding batu cadas yang bisa dipakai nongkrong sekitar 15 orang. Serunya jugaa, ada tempat nongkrong lagi yang bisa dipanjat di dalam goa itu. Konon tongkrongan di pertemuan tiga aliran sungai Tiga Leong itu sering dipakai untuk bertapa.

Selain bertapa, disini anda bisa mandi sungai arus deras dan lompat-lompatan dari tebing. Atau, kanyoning samping air terjun dengan seutas tali teknik alpina.

San Murep Jalan Jalan Club berpose di bawah Tebing Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

San Murep Jalan Jalan Club berpose di bawah Tebing Leong Timur, Tanjung, Lombok Utara.

Tidak jauh dari air terjun pertama, ada lagi air terjun kedua yang masih terbungkus alami. Padahal, air terjun itu terletak di pinggir jalan warga, tetapi kondisinya tertutup dan nyaris tidak terlihat.

Untuk bisa mencapai tebing dan kedua air terjun ini, pengunjung harus melintasi hutan coklat. Jalannya, masih dari tanah, tetapi cukup terawat.

Di lembah-lembah hutan coklat inilah warga hulu Tiga Leong menetap. Meski letaknya di atas ketinggian sekitar 700 meter diatas permukaan laut, Leong tergolong pemukiman tua. Bahkan, beberapa nama di daerah Tanjung diambil dari nama beberapa tempat di sekitar kawasan hutan Tiga Leong ini.

Eit tidak itu saja, Tiga Leong ini masih punya satu lagi air terjun yang mudah dijangkau sepeda motor. Air Terjun Temponan Leong, demikian masyarakat setempat menyebutnya.  ”Kalau mau naik ke atas lagi, masih banyak air terjun di kawasan hutan Leong ini,” jelas Adi yang terus mengawal piknik singkat kami.

Rupanya, Kadus dan warga Leong Timur ini belum sepenuhnya menyadari bahwa mereka tinggal dan menetap di kawasan subur, indah, banyak air terjun, dan menyimpan segudang potensi.  ”Semoga pemerintah KLU juga melihat apa anda lihat,” timpal Ardin. (*)

Apink Alkaff

 

 

 

 

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com