Flamboyan yang tersisa di Jalan Hasanudin, Cakranegara, Kota Maaram. Sebagian orang menyebutnya Bunga Desember. Kini Flamboyan mekar di awal Oktober 2016.

Flamboyan dan Sabuk ”Merah” Pantai

Kenapa mesti flamboyan? Ini penjelasannya bro

Tidak banyak mungkin yang dapat kita berikan kepada tanah ini.Selain kesepakatan-kesepakatan hati untuk bekerja secara diam, tak jumawa mengangkat bahu lebih dari kepala. Atau mengangkangkan semangat hanya pada cerita media sosial saja. Untuk bumi, untuk sesuatu yang selalu terbarukan dengan upaya dan nilai yang kuat tertanam didalamnya. Dengan munafaat yang tak berbatas untuk kemasalahatan bersama dalam aplikasi kegiatan yang bersipat multi efeck dan terpilot projek.

Domain pariwisata tidak hanya pada tumpuan wisata budaya,  pantai, gunung dan hutan. Sudah saatnya ide baru mendaulat keterbangunan sektor pariwisata berbasis Blocking Urban Forestry dalam konsep Daulat Pohon. Dengan menu menanam teraplikasi di daerah tertentu (Blocking Area) dengan upaya dan system pemantik ( sistem tanam di areal pesisir) dan pola kontrol terpadu (Web Control dan APK ) yang lalu memunculkan wilayah baru yang produktif ( Destinasi Wisata Safari Flamboyan)  untuk eco wisata. Juga menjadi ruang belajar warga pada musim berbunga flamboyan (Oktober sampai Maret )  maupun pada musim dormansi pohon (tanpa bungga  dan daun).

Dampak Flamboyan Sebagai Penyangga Sektor Pariwisata :

  • Safari Flamboyan ( Blooming Royal Poinciana Fest ) sebagai alternatif pada musim sepinya kunjungan wisata pada November sampai Maret. Bulan dimana menjadi puncak  berbunganya flamboyan (Blooming Royal Poinciana). Sudah barang pasti akan menjadi magnet pariwisata baru, dan paket destinasi yang menarik sepanjang ruas kilometer jalan Lombok Utara dan pantai.
  • Icon Kota Api Atau Bumi Sejuta Flamboyan, membumikan nilai baru yang akan menjadi trendsetter pengembangan pariwisata berbasis lingkungan. Baik di areal kota maupun pesisir pantai dan tempat wisata yang sudah populer (sebutan lain) Lombok Utara, sebagai daerah kunjungan wisata nasional maupun internasional.
  • Multi Efeck Program, ketika pohon flamboyan tumbuh tidak saja lalu hanya akan meranumkan bunga sebagai nilai tambah estetika. Tetapi pada sejatinya mendatang keteduhan yang tak berbatas. Juga sebagai pemantik dari perkembangan ekosistem lainnya. Seperti habitat burung (25 Jenis burung kicau), kupu Kupu, trigona Sp dan berbagai jenis seranga lainnya, yang selama ini, hampir punah karena habitat pohon berbunga sebagai penghasil makanan atau nectar  mulai tergantikan dengan ruang bangunan
  • Flamboyan Penyangga Geosite, Tanah kita ( Lombok Utara ) bagian penting dari geosite rinjani, sepanjang pantai, tebing, gunung, keutuhan masyarakanya adalah bagian yang termaktub menjadi bangian dari Rinjani Geosite. Bagian yang penting, untuk terus dikembang, tidak lantas diam pada nilai itu saja. Sebagaimana pada cita-cita kita bersama membangun tanah ini tidak bertumpu pada satu sektor yang pada nilainya akan berkurang pada saatnya nanti.

Bumi Sejuta Flamboyan  sebagai  penyangga lingkungan  ruang kota dan pesisir :

  1. Geofisik Lombok Utara

Lombok Utara adalah kabupaten dengan countur geologi wilayah yang didominasi pegunungan dan pantai. Jarak pantai dan gunung yang begitu dekat mengisyaratkan jika Kabupaten Lombok Utara adalah wilayah yang dulunya ditutupi hutan belantara dengan elevasi menurun hingga ± 42̊ (derajat) dari titik tertinggi kearah pantai. Artinya, turunnya aliran air dari arah ketinggian menjadi sangat deras.

Fisik Geologi (struktur lapisan tanah) yang tersusun dari bebatuan tidak padat dan debu vulkanik adalah bentukan permukaan Bumi Lombok Utara yang terjadi akibat letusan Gunung Api Rinjani di masa lalunya, karena itu relevansinya:

  1. Struktur Lapisan tanah menjadi labil
  2. Aliran air saat musim penghujan menjadi deras baik aliran air dipermukaan maupun aliran bawah tanah
  3. Kajian Dampak

Struktur geofisik Lombok Utara dengan countur pegunungan dan laut yang memiliki jarak sangat dekat yakni rata–rata sekitar 6 sampai 8 kilometer dengan elevasi 42̊  (derajat) dan Struktur lapisan tanah yang tersusun dari batuan tidak padat dan debu vulkanik memungkinkan terjadinya:

  1. Bencana alam seperti erosi, banjir bandang dan lainnya karena lapisan tanahnya akan mudah tergerus air yang mengalir dengan deras.
  2. Bencana kekeringan karena air tanah pada daerah dengan elevasi (kemiringan) tersebut mustahil akan tertahan lama apalagi dengan lapisan tanah yang tidak tersusun dari batuan padat
  3. Rentan rusaknya infrastruktur jalan, irigasi dan drainase karena pada setiap musim penghujan lapisan tanah labil tersebut akan mudah terbawa air dan menutupi saluran, irigasi dan jalan.
  4. Pendangkalan laut dan abrasi karena tanah labil tersebut mudah dibawa air kewilayah pesisir pantai baik yang dialirkan melalui permukaan tanah ataupun yang dibawa melalui aliran bawah tanah.
  5. Terganggunya ekosistem laut seperi terumbu karang, terusirnya plankton (makanan hewan laut dan penghasil oksigen terbesar (Kajiana Riset Nasa) serta pendangkalan laut akibat derasnya aliran air. Baik dari permukaan maupun bawah tanah yang membawa lapisan tanah. Hal tersebut sangat berdampak pada hasil tangkapan nelayan trdisional (data Dampak Kerusakan Hutan Bagi ekosystem Laut, 2015 by Pawang Rinjani)

Dampak Bumi Sejuta Flamboyan tehadap keterbangunan Lingkungan  :

Kepada ruang berpikir utama aplikasi berpikir ini dihajatkan, yaitu keterbangunan lingkungan yang berimplikasi pada estetika. Membangun ruang vegetasi kota ( urban vegetaion ) tampa menyampingkan fungsi tegakan dan memenuhui hajatan kebutuhan manusi terhadap ruang terbuka hijau dan ruang ruang fungsi lainnya

  • Logika Ruang Baru Industri Oksigen

Konsentrasi CO2 di atmosper dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Ini disebabkan sebagian besar oleh aktivitas manusia (antropogenik). Pemberi konstribusi utama berasal dari pembakaran bahan bakar fosil meliputi gas dan bahan bakar untuk kendaraan bermotor, konsumsi listrik, industri dan kekuatan tanaman. Konstribusi dari sektor tersebut diperkirakan sekitar 65 % dari total emisi di seluruh dunia. Selain itu, 14% berasal dari aktivitas pertanian, 18% kerusakan hutan, aktivitas domestik dan penguraian sampah (Anonimous, 2008). Salah satu upaya untuk menjaga dan mengendalikan konsentrasi gas CO2 adalah dengan menambah luasan ruang terbuka hijau (RTH) hutan kota. RTH hutan kota merupakan bagian dari RTH kota. RTH kota terdiri dari RTH hutan kota berupa areal bervegetasi pohon yang dikukuhkan sebagai kawasan hutan kota dan ruang terbuka hijau non hutan kota yang berupa hutan, kebun, sawah, semak dan rumput (Dahlan, 2004).

Dengan upaya penumbuhan 40.000 flamboyan sebagai upaya dasar membangun kilang-kilang oksigen dalam kurun waktu cepat. Secara spesipik flamboyang dalam kurun waktu satu tahun dapat tumbuh hingga lima meter. Dalam hal ini dapat dikategorikan sebagai tegakan yang dewasa dan siap  menghasilkan oksigen 1.2 kilogram per hari. Setiap tegakan yang pada hajatan aplikasi bersama ini dapat menghasilkan tegakan  60 % dari target capaian maka 24 ribu tegakan akan menghasilkan 28,800 kilogram oksigen per hari dengan kadar kebutuhan manusia per hari  0.6 kilogram per hari. Artinya, 60 %  tegakan sudah memberikan kebutuhan oksigen secara langsung kepada  57.600 jiwa. Jika ini diasumsikan dengan target 60 %, dengan jumlah  215,518 jiwa dengan kepadatan 0,27 jiwa/km2 di Kabupaten Lombok Utara, maka sumbangan kilang oksigen dengan multi efeck mampaat terpadu telah menyumbangkan 27 % kebutuhan oksigen seluruh masyarakat Lombok Utara. Yang menjadi paru-paru baru di Kabupaten Lombok Utara.

  • Urban Filter

Vegetasi berfungsi sebagai filter hidup yang menurunkan tingkat polusi dengan mengabsorbsi, detoksifikasi, akumulasi dan atau mengatur metabolisme di udara sehingga kualitas udara dapat meningkat dengan pelepasan oksigen di udara (Shannigrahi et al. 2003).

  1. Smart Green Land merupakan inovasi konsep RTH bagaimana membuat RTH memiliki fungsi sebagai paru-paru kota dan sebagai tempat yang nyaman melalui penyediaan fasilitas penunjang dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan. Daerah sisi jalan adalah daerah yang berfungsi untuk keselamatan dan kenyamanan pemakai jalan. Lahan untuk pengembangan jalan, kawasan penyangga, jalur hijau, tempat pembangunan fasilitas pelayanan, dan perlindungan bentukan alam (Carpenter, 1975).
  2. Kontur Lombok Utara yang hampir  80 % seluruh wilayahnya bersinggungan dengan garis pantai. Dimana secara langsung, paparan asam garam terkontak langsung dengan, masyarakat, vegetasi lain, lahan produksi pertanian dan faktor pendukung  lainnya dapat terkurangi dampak paparannya dengan tumbuhnya flamboyan sebagai sabuk pantai dan green land lanskap Kabupaten Lombok utara
  • Biopory Kota

Tegakan pohon dapat mempengaruhi fungsi hidrologi tanah melalui intersepsi air hujan, lolos tajuk (troughfall), dan alir batang (stemflow), masukan seresah serta distribusi akar (Mas’ud et al 2004 cit. Dewi dkk, 2008 Budiastuti, 2006; Hairiah et al 2006cit. Budiastuti, 2006).

Selain itu, siklus hidup akar pohon yang sangat dinamis dapat menciptakan biopori yang berukuran besar dalam waktu yang lama. Sehingga memberikan laju perkolasi (peresapan) air yang tinggi dan dapat meningkatkan air tanah (ground water) (Anonim, 1998cit. Dewi dkk, 2008 Stott et al, 1999cit. Dewi dkk, 2008;  Agus et al, 2002cit.Dewi dkk, 2008).  

  • Urban Forestry Consept ( RTH )
  1. Ruang terbuka adalah ruang yang bisa diakses oleh masyarakat dalam kurun waktu terbatas maupun tidak tertentu. Ruang Terbuka Hijau dapat berbentuk jalan, trotoar, taman kota, dan hutan kota. Luas RTH minimum sebesar 30 %  merupakan ukuran minimum kawasan bervegetasi untuk menjamin keseimbangan ekosistem kawasan dengan memperhatikan fungsi dan estetika yang mendukung faktor lainya (flamboyan).
  2. Keseimbangan ekosistem yang dipertahankan adalah fungsi hidrologis, iklim mikro, ketersediaan udara bersih agar dapat terjamin untuk kebutuhan warganya dan penyerapan karbondioksida. Disamping itu, kawasan bervegetasi dapat meningkatkan nilai estetika kawasan (Baharudin, 2011). Menurunnya kualitas permukiman di perkotaan dapat dilihat dari kemacetan yang mulai berkembang di Lombok Utara. Berkembangnya kawasan kumuh yang rentan banjir serta semakin hilangnya RTH untuk artikulasi dan kesehatan masyarakat.
  3. Keterbatasan lahan hijau menuntut peraturan daerah tersendiri yang mengatur kebijakan seperti pergantian tembok pembatas antar gedung bertingkat yang masif dengan pepohonan dan taman berfungsi peneduh sehingga dapat menyatu dengan trotoar yang berada di tepian badan jalan (Direktorat Jenderal Penataan Ruang, 2006).
  4. Pengelolaan lanskap adalah upaya terpadu dalam penataan dan pemanfaatan, pemeliharaan, pelestarian, pengendalian dan pengembangan lingkungan hidup sehingga tercipta lanskap yang bermanfaat bagi manusia dan makhluk hidup lainnya (Arifin, 2005). Pengelolaan atau manajemen merupakan suatu proses dari konsep, teori, dan analisis tujuan, yaitu merencanakan, mengatur, dan menjalankan tujuan tersebut melalui usaha manusia secara sistematis, koordinatif dan saling kerja sama (Kraus dan Curtis, 1982).
  • Bird Consetration Urban Consept

Lingkungannya terdapat hubungan timbal balik, baik secara langsung maupun. Dalam memperoleh masukan zat-zat yang dibutuhkannya itu menyebabkan terjadinya pola interaksi antar makhluk dan lainya, sebagaimana harapan pada program sejuta flamboyan ini melahirkan birdpark natural (taman burung alam), yang secara tidak langsung ketika pohon flamboyan tumbuh dan menaungi menjadi kanopi alami. Maka 25 species burung yang berhabita pada flamboyan akan datang dan beberap jenis serangga.

  • Sabuk ”Merah” Pantai

Hal tersebut akan lebih fatal bila kondisi hutan dan ruang terbuka hijau daerah tepi tidak terjaga dan tersiapkan dengan baik. (*)

Oleh: D. Pramoehadi

Editor: Apink Alkaff

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About D Pramoehardie

D Pramoehardie