Gili Meno dan Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.

Sabuk Merah Api di Pasir Putih Gili

Meruangkan asa tegakan flamboyan di ruang Gili

Tanah ini. Bukan saja tentang Rinjani. Tentang kelokan pantai bergaris putih. Tentang tembang dan lelakon manusia. Air sunyi dalam gegam akar belukar. Tetapi lebih jauh melibatkan perasaan yang jauh lebih dalam.

Pasir Putih, Pendaki Bersih untuk Daulat Pohon Pawang Rinjani

Pasir Putih, Pendaki Bersih untuk Daulat Pohon Pawang Rinjani

Oleh: Pramoehardi, Lombok Utara

Jika saja dari kejauhan pelabuhan, pagarnya tampak merah mengoda mata, udara segar dari kilang-kilang oksigen merah, menghampar kesejukan, meneduhkan jiwa-jiwa pejalan kaki. Menjaga labil pasir dari gurauan ombak dan orang-orang yang merindukan untuk menjumpainya kembali dan kembali untuk tersesat didalamnya.

Mimpi ini, mimpi yang harus dibeli. Seperti bahasa orang suci, dibeli dengan kesungguhan,  keteguhan,  dan keberanian untuk melakukan. Mimpi ini mimpi tentang gili, pulau kecil di sebalah rumah kita, di sebrang jendela, yang  sepertinya terabaikan dan entahlah.

Karena ini bukan saja tentang reggae, atau detak musik hybrid, manta, atau terumbu biru yang melenakan tiap kesadaran. Tetapi ini tentang sesuatu yang jauh lebih dalam menguyah kesadaran. Tentang kita, tentang rumah, tentang keindahan yang bertumbuh untuk haknya terjaga,  lebih dari amuk asap marijuana.

Mimpiku tentang Gili. Gili merah yang tak marah karena tanahnya mulai menyipit. Gili yang sadar pasirnya bagai mata putih bidadari pirang. Bibir-bibir pantainya yang  solek meranum dilebattegakan bunga flamboyan di ujung November. Bagai perawan di ujung karimata

Ini tidak saja tentang menumbuhkan cinta. Tetapi sejatinya menjaga jajaran mutiara yang menghidupkan tiap nafas didalamnya. Memberi sandaran ombak yang menghempaskan risaunya cuaca.

Merumahkan burung yang bersenadung kala pagi menjemput matahari dan serangga memeram nektarnya. Seperti senja kita memerahi akan abadi ditiap kata.

Giliku gili merah di pasir putih tanah kurawa. Akupun menunggumu kawan di jejak kata. Membicangkan mimpi ini jauh lebih dalam. Mimpi yang jauh lebih sadar dan sukar ketimbang membicangkan. Mimpi yang kan mendaulat pohon di seberang jendela rumah kita.

Pohon, pohon, pohon merah api yang menjaga pantai gili, memberi ruang cerita tak berbatas

 D. Pramoehardi adalah Ketua Pawang Rinjani

editor: Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About D Pramoehardie

D Pramoehardie