Pink Beach, Tanjung Ringgit, Lombok Timur, NTB.

Surat Terbuka untuk Menteri Susi dari Pink Beach

‘’Daripada hanya dihancurkan kemudian ditenggelamkan begitu saja”

LOMBOK TIMUR – Tanjung Ringgit, Lombok Timur, adalah salah satu spot pertahanan Pulau Lombok dahulu kala. Selain spot mancing tebing yang menggoda, jajaran tebing di kawasan ujung selatan Lombok ini juga menyimpan misteri pesona alam bawah laut.

Salah satu goa laut di Gili Petelu, Lombok Timur.

Salah satu goa laut di Gili Petelu, Lombok Timur.

Wabilkhusus, perairan sekitar Pink Beach atau Pantai Tangsi, Jerowaru. ‘’Spot selam terbaik di kawasan Pink Beach sekitar 200 meter ke tengah. Palung banyak di kawasan sana. Kadang-kadang ada goa bawah laut. Kalau ada arus, suaranya hampir sama dengan dentuman ombak yang menghantam goa di tebing-tebing curam kawasan selatan Lombok ini,’’ terang Bambang Arwono, instruktur diving Lombok, di brugak utarakita, (18/11).

Dulu, sekitar 1985 kata Beng Beng (sapaan akrabnya) yang juga pendiri Rinjani Diving Club (1984), di dasar laut dekat Pulau Marengkek itu ada kapal besar yang tenggelam. Sayangnya, kapal yang sudah menjadi rumah jutaan spesien laut itu dijarah oknum masyarakat. ‘’Dijual besinya,’’ kata Beng Beng singkat. Termasuk sambung Beng Beng, besi meriam yang ada di ujung Tanjung Ringgit juga sudah dipotong tangan-tangan jahil.

Bambang Arwono dan rumpon yang pernah dibuatnya.

Bambang Arwono dan rumpon yang pernah dibuatnya. (photo; ist)

Dijelaskan Beng Beng, pulau ujung selatan Lombok ini punya sejarah panjang yang kental kaitannya dengan sejarah pertahanan kerajaan Lombok. ‘’Di dekat meriam Tanjung Ringgit itu goa alam yang tembus laut. Itu salah satu goa alam di kawasan tebing-tebing batu pantai selatan. Termasuk goa-goa alam di sekitar Gili Petelu,’’ Beng Beng yang kerap disebut jin laut dalam komunitas penyelam Lombok.

Alangkah baiknya kata aktivis lingkungan 55 tahun ini, jika kehidupan bawah laut di kawasan selatan pulau Lombok ini direhabilitasi. Caranya ungkap Beng Beng, dengan menenggelamkan kembali kapal-kapal bekas yang nantinya menjadi rumpon dan rumah bagi jutaan spesies laut. ‘’Seperti rumpon kapal Belanda yang ada di Tulamben, Bali,’’ kata kakek satu cucu ini.

Untuk bisa menghadirkan kapal di dasar laut ini kata penyelam senior Lombok ini, bisa dilakukan oleh Menteri Kelautan dan Kemaritiman RI, Susi Pudjiastuti. ‘’Untuk itu, kita harus minta Menteri Susi agar menenggelamkan satu kapal di perairan Gili Petelu, Lombok ini,’’ tegasnya.

Para penyelam senior Lombok.(photo: ist)

Beng Beng dan para penyelam senior Lombok.(photo: ist)

Tentu kata Beng Beng, kapal itu tidak diledakkan. ‘’Soal teknis menenggelamkan kapal itu, biar kami seluruh anggota Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) Nusa Tenggara Barat yang akan mengerjakannya,’’ kata instruktur POSSI NTB.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa saat ini penggunaan rumpon sebagai alat bantu penangkapan ikan kian banyak digunakan nelayan maupun pelaku usaha bidang penangkapan ikan. Hal ini karena rumpon memang memberikan manfaat nyata dalam upaya peningkatan hasil tangkapan ikan. Disamping itu, rumpon juga dapat menyedot wisatawan asing yang memang suka petualangan bawah laut.

Untuk menghindari kerusakan pola migrasi ikan dan melindungi  kelestarian sumber daya ikan, Menteri Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan Keputusan Menteri Nomor : KEP.30/MEN/2004 tanggal 24 Juli 2004 tentang Pemasangan dan Pemanfaatan Rumpon. Disamping itu penjelasan tentang rumpon juga tertuang pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor : PER.02/MEN/2011 tanggal 31 Januari 2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan, Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, khususnya Bab IV Pasal 18, 19 dan 20.

‘’Daripada dihancurkan kemudian ditenggelamkan begitu saja, akan lebih baik jika kapal-kapal pencuri ikan itu dikembalikan ke dasar laut untuk menjadi rumah-rumah baru biota laut. Ini surat terbuka untuk Menteri Susi dari Pink Beach,’’ tegas Beng Beng. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com