Penerapan SOP Destinasi Wisata Lombok Dinilai Masih Minim

MATARAM— Standar operating procedure (SOP) sejumlah destinasi wisata Lombok dinilai masih minim. Padahal, destinasi-destinasi Lombok ini sudah populer dan banyak dikunjungi wisatawan.
Hal itu diungkapkan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Budaya, Kementerian Pariwisata RI, Tetty DS. Ariyanto, M.Par di Hotel Lombok Plaza, Senin (4/4). “Usai bimbingan teknis atraksi wisata tradisi dan seni budaya, kami melakukan kunjungan lapangan ke pusat kerajinan gerabah di Desa Banyumulek, pusat kerajinan tenun di Desa Sukarara, dan pusat penjualan mutiara Lipco di Kota Mataram,” ungkap Tetty.
Dijelaskan Tetty, awalnya rombongan bintek disambut meriah dengan atrakis gendang belek saat berkunjung ke pusat kerajinan tenun Sukarara, awalnya kami memang disambut meriah. Namun setelah itu, ketika guide lokal mengambil alih untuk menjelaskan berbagai informasi kepada para tamu, ternyata kami dilihat sebagai obyek.
Para guide lokal sebutnya, menjelaskan cenderung terburu-buru. Pun halnya ketika rombongan menyambangi pusat kerajinan gerabah di Desa Banyumulek. “Destinasi wisata Desa Banyumulek ini terlihat sepi, dan tidak ramah. Kedua destinasi wisata yang kami kunjungi ini tidak bagus dalam penyambutan tamu dan tidak menerapkan SOP,” bebernya.
Syukurnya kata Tetty, ketika rombongan berkunjung ke pusat penjualan mutiara Lipco di Kota Mataram. “Baru kami datang, ownernya langsung menyambut dan memberikan handuk dingin kepada rombongan. Selain ruangannya ber-AC penjelasannya terkait mutiara cukup detail, mulai dari proses pembudidayaan hingga produk jadi,” kata Tetty.
Menurut dia, apa yang dilakukan manajemen pusat penjualan mutiara Lipco kepada para tamu sudah baik dan memenuhi SOP. Nah, melalui bintek yang diikuti 30 peserta ini diharapkan ada penerapan SOP di setiap destinasi wisata.
“Bintek dua hari (2-3 April) ini pesertanya berasal dari unsur Travel Agent (Asita), Pemandu Wisata (HPI), kelompok sadar wisata, dan sejumlah pelaku wisata lainnya yang selama dua hari, 2 — 3 April 2017,” sebut Tetty.
Untuk pengerajin maupun guide lokal di destinasi wisata sambungnya, mereka harus terus dibimbing dan ditingkatkan lagi kemampuan SDM-nya. Sehingga ketika berhadapan dengan wisatawan, pelayanan yang diberikan tidak mengecewakan.
Lebih jauh diungkapkan Tetty, pemerintah dalam hal ini harus memberikan pendampingan kepada komunitas, hingga mereka benar-benar professional.
Bimbingan tak hanya dilakukan untuk meningkatkan kemampuan hospitality atau pelayanan saja, tetapi inovasi dan kreatifitasnya juga harus dibangkitkan. Sehingga tegasnya, produk layanan atau paket wisata yang disuguhkan tidak kaku dan monoton.
“Wisatawan yang berkunjung ke pusat kerajinan tenun atau gerabah itu tidak cuma untuk belanja. Terkadang mereka datang karena ingin melihat dan merasakan proses pembuatan kerajinan mulai dari awal hingga menjadi produk jadi,” imbuhnya.(*)
Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com