Lintas Sumbawa 320 K, Tantangan Lari Terberat di Asia


Poto Tano – Peserta Tambora Chalenge 320 kilometer dilepas tepat pukul 15.00 WITA, Rabu (5/4). Diperkirakan, waktu tempuh lari melintasi pulau Sumbawa dari Poto Tano, Kabupaten Sumbawa Barat sampai Doro Ncanga, Dompu, bakal ditempuh selama tiga hari dua malam. Menariknya, satu diantara 27 atlet lomba lari Lintas Sumbawa ini berasal dari Dompu.

Atlet Tambora Chalenge 320 K pose bareng pejabat terkait NTB dan penyelenggara di Pototano, Sumbawa Barat.

Dipastikan, Tidak semua peserta lomba lari Lintas Sumbawa ini bisa sampai finis. Maklum, berlari sejauh 320 kilometer tanpa istirahat bukanlah hal yang mudah. Belum lagi, cuaca ekstrim pulau Sumbawa yang bakal menjadi tantangan tak terduga.

Kendati demikian, tantangan suhu ekstrim Tambora Chalenge 320 K ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta lomba. Even ini tidak saja paling ekstrim di Indonesia tetapi juga paling menantang di Asia.
Sekitar satu jam sebelum para atlet dilepas, suasana titik start Di Desa Tambak Sar, Pototano, Kabupaten Sumbawa Barat, sudah ramai. Tampak, Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Mohammad Faozal, Ketua KONI NTB, Andi Hadianto dan Kadis Dikpora NTB, HJ Husnanidiyati Nurdin, dan puluhan suporter atlet sudah berada di titik start. Tampak juga, Bupati dan Wakil Bupati KSB beserta jajarannya.

Barapan ayam, olahraga tradisional Sumbawa Barat dalam even Festival Pesona Tambora 2017.

Selain pelepasan 23 atlet Tambora Chalenge, rangkaian even Festival Pesona Tambora di Potatano ini juga diramaikan lomba barapan ayam. Olahraga tradisional adu kecepatan ayam yang cukup diminati warga setempat. Sedikitnya 168 pasang ekor ayam jenis bangkok turun saling adu cepat.

Awalnya, saat kali pertama Tambora Chalenge ini digelar 2015 lalu, atlet Ambon, Matius, berhasil mencatatkan waktu tempuh 61 jam. Selanjutnya, ketika even serupa 2016 lalu, catatan waktu terbaik sekitar 71 jam.
Kini, untuk ketiga kalinya, lomba lari Lintas Sumbawa ini kembali digelar. Dengan jarak tempuh 320 kilometer, tepatnya mulai dari Pototano, ujung Sumbawa Barat sampai Doro Ncanga, Dompu.

Syafrudin, atlet Lintas Sumbawa 320K asal Dompu, saat memimpin di kilometer 30. Alas, Sumbawa Barat.

Menurut Pimpinan Redaksi Kompas, Budiman Tanuredjo, lomba ini merupakan yang terjauh di Asia Tenggara. Jarak yang harus ditempuh para peserta Lintas Sumbawa setara dengan jarak Yogyakarta-Surabaya atau lebih dari tujuh kali jarak lomba full marathon.
‘’Lari Lintas Sumbawa adalah bagian dari Festival Pesona Tambora yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pemerintah kabupaten/kota di NTB, serta harian Kompas,’’terang Budiman.
Tahun ini jelasnya, peserta Lintas Sumbawa sebanyak 27 orang. Lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya yang jumlahnya 22 orang.
Mereka terdiri dari 15 peserta kategori individu dan 12 peserta kategori relay atau berpasangan. Satu tim relay terdiri dari dua orang pelari sehingga total ada enam tim relay.

Pimred Kompas Budiman Tanuredjo (kaos orange), Kadispar NTB, HL Muhammad Faozal, dan tourism journalist Lombok di sela-sela lomba Lintas Sumbawa 320K

Para peserta kategori individu jelasnya, harus menempuh jarak 320 kilometer sendirian dengan cut off time atau batas waktu 72 jam. Untuk relay, masing-masing pelari akan menempuh 160 kilometer.
Di tempat yang sama, Kadis Pariwisata NTB, HL Muhammad Faozal menyebutkan, dari seluruh peserta, ada satu atlet andalan NTB asal Dompu, Syafrudin, yang mencoba turun dalam even ini. ‘’Semoga atlet kita juga bisa mengukir prestasi dalam even ekstrim dan bergengsi ini,’’ ungkap Faozal.
Sementara itu, sejak dilepad sampai jarak sekitar 30 kilometer dari Pototano sampai Alas, atlet asal NTB ini terus memimpin. ‘’Jarak antara pelari yang paling belakang dengan Syafrudin yang sementara memimpin lomba ini sekitar 14 kilometer,’’ timpal Budiman saat memantau jalannya lomba di daerah Kecamatan Alas, Sumbawa Besar. (*)
Apink Akaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com