Korban Taufik Budi Prasetiyo sempat berpose sebelum mandi di Aik Kalak. (foto: ist)

Kembali, Aik Kalak Rinjani Makan Korban

”Korban sempat berpose sebelum mandi dan maut menjemputnya”

MATARAM – Untuk kali ketiga dalam setahun terakhir, kolam pemandian air panas, Aik Kalak, Rinjani makan korban. Kali ini, nasib malang dialami Taufik Budi Prasetiyo, pendaki asal Jomblang, Mulyodadi, Bambang Lipuro, Bantul, Jogjakarta. Mahasiswa 23 ini ditemukan tak bernyawa sekitar pukul 10.00 WITA, di kolam pemandian Aik Kalak, Minggu (23/4).

Hingga berita ini diturunkan, penyebab kematian korban masih misteri. Yang pasti, sebelum mayatnya ditemukan rekannya, Muhammad Ali, korban sempat hilang beberapa saat di pemandian air panas dekat Danau Segara Anak, Rinjani.

Pendaki asal Jomblang, Taufik Budi Prasetiyo saat di Puncak sebelum ditemukan tak bernyawa di Aik Kalak, Rinjani.

Sebelumnya, kasus kematian di pemandian air belerang, Aik Kalak, Rinjani ini sangat jarang terjadi. Belakangan, sejak Gunung Baru meletus besar akhir 2015 lalu, kasus kematian justru terjadi berturut-turut di Aik Kalak.

Misteri kematian di Aik Kalak ini diawali dengan ditemukannya jasad Ike Suseta Adelia, Senin (9/5) lalu. Pendaki wanita asal Pelembang ini ditemukan meregang nyawa di tempat pemandian air panas belerang, Aik Kalak.

Menurut beberapa saksi dan teman korban kala itu, seperti ada yang menarik korban dan temannya ketika berendam air panas. Tragislnya, hanya Ike yang tidak bisa keluar. Korban juga sempat  menghilang sebelum ditemukan tak bernyawa di pemandian air panas dekat Danau Segara Anak.

Enam bulan kemudian, tepatnya Rabu (9/11) lalu, pendaki Malaysia, Ng Yin Teck, 24 tahun, juga tewas di tempat yang sama. Anehnya, korban pun sempat dinyatakan hilang sebelum ditemukan tak bernyawa. Seperti halnya kejadian pertama, pendaki Negeri Jiran ini juga dikabarkan tersedot saat mandi di kolam air panas tersebut.

Korban saat dievakuasi dari pemandian air panas, Aik Kalak, Rinjani. (foto; ist)

Kini, kasus serupa kembali terjadi 23 April lalu. Kejadiannya pun hampir serupa. Bahkan, korban mandi bersama temannya Ali dan sempat mengabadikan momen sebelum ajal menjemputnya.

Menurut laporan petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani, korban melakukan registrasi pada 21 April 2017 melalui pintu pendakian Sembalun bersama dua temannya, Muhamad Ali S, 21 tahun, Mahasiswa, Kampung Lebak Pasar Rt.001/001 Desa Nambo dan Setio Teguh, 22 tahun, Mahasiswa, Kampung Tengah Rt.03 Rw 06 Cileungsi.

Rencananya, pendakian akan dilakukan tiga hari dua malam. Pada 22 April korban beserta dua rekannya tiba di Danau Segara Anak sekitar pukul 17.30 WITA dan bermalam. Keesokan hari, 23 April sekitar pukul 07.30 WITA korban bersama temannya Muhammad Ali mangambil air di mata air tak jauh dari Aik Kalak.

Proses evakuasi korban, Taufik Budi Prasetiyo dari Gunung Rinjani. (foto: ist)

Setelah mengambil air minum, korban dan temannya mampir untuk mengambil gambar dan mandi. Namun temanya Ali menyarankan untuk mandi di lokasi air yang berada di atas karena ramai pengunjung.

Awalnya Ali melihat korban membuka baju di pinggir kolam air panas Aik Kalak. Ali berniat mandi juga tetapi Ali menaruh air dulu di bukit  sekitar 20 meter dari tempat kejadian.

Setelah menaruh air, Ali langsung turun ke Aik Kalak. Tapi Ali tidak melihat temannya Budi di tempat pemandian itu. Panik karena rekannya menghilang, Ali mencari bantuan ke basecamp dan bertemu dengan Jalil, pendaki lain yang kebetulan ada di Danau Segara Anak.

Sesaat kemudian, Ali beserta pendaki lain langsung menuju Aik Kalak. Setelah melakukan pencarian cukup lama, korban ditemukan sudah tidak bernyawa di sekitar kolam pemandian air panas, Aik Kalak.

Selanjutnya, korban dievakuasi dari Danau Segara Anak menuju Pos Resort Sembalun oleh petugas Balai TNGR dan Tim Medis Edelweis Medical Help Center (EMHC). Rencana korban akan dioutopsi di Rumah Sakit Umum Selong Lombok Timur.(*)

Apink Alkaff

 

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com