Break the Limit, Rinjani 100 Cetak Lima Rekor Baru

Rinjani 100 sudah menyetak lima rekor baru”
Rinjani 100, ajang bergengsi tanpa piala. Lebih pada membangun rasa percaya diri dan tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri jika tantangan terekstrim di Asia ini bisa ditaklukkan.

Apink Alkaff – Rinjani

Rinjani 100 adalah medan berkelas atlet petualang untuk mengetahui batas kemampuan diri.
Rinjani 100 juga merupakan salah satu langkah trail master memasuki dunia ekstrim sport tourism dunia. Peluang bergengsi ini pun dimanfaatkan para petualang lokal maupun internasional.
Tak heran, jumlah pelari yang mengikuti ajang sport tourism ini meningkat pesat setiap tahunnya. Jika tahun 2016 lalu peserta Rinjani 100 hanya 332 orang dari 22 negara, tahun ini pesertanya mencapai 550 orang dari 28 negara. Sebanyak 200 atlet diantaranya adalah atlet-atlet muda dunia. Peserta paling banyak berasal dari Cina, 43 orang.
Tidak saja jumlah peserta Rinjani 100 yang mulai membludak, prestasi yang ditoreh para trail master ini kian baik. Sejauh ini, sudah lima rekor baru telah terukir.

Porter pemenang Pegasingan Challenge Rinjani 100 2017

Race Director Rinjani 100 2017, Rudi Rohmansyah, pecahnya empat rekor ini menunjukkan gaung even ini semakin luas. “Pelari-pelari yang belum ikut di tahun lalu merasa tertantang untuk berkompetisi. Ini menyebkan munculnya juara-juara baru,” kata Rudi.

Keempat rekor baru itu mulai ditoreh di kelas porter. Gerus, porter Sembalun, Lombok Timur, berhasil memecahkan rekor atas nama dirinya untuk ketegori Pegasingan Challenge. Tahun sebelumnya Gerus mencatatkan waktu 48 menit, tahun 2017 ini porter 45 tahun itu menyelesaikan lomba kebut bukit setinggi 1600 meter diatas permukaan laut itu selama 40 menit.

Dikelas, 36 kilometer, Sembalun-puncak-Sembalun, Alexander Stock, pelari Austria berhasil menjadi yang tercepat dengan waktu 6 jam 31 menit 33 detik. Rekor ini Alek melampaui rekor Carlos Paz, Spanyol dengan catatan waktu 7 jam 44 menit 58 detik, 2016 lalu.
“Ini sungguh pengalaman yang luar biasa, sangat menantang dan ekstrim. Tapi saya menikmatinya. Rinjani adalah gunung terbaik tempat saya berlari,” ungkap Alex bangga.

Untuk kelas perempuan kategori 36 kilometer dimenangkan Melissa Graye, pelari asak Prancis. Trail master 22 tahun mencatatkan waktu 8 jam 55 menit 37 detik. Ia menaklukkan rekor rekan senegaranya Vera Breuer yang tahun mencatatkan waktu 10 jam 10 menit 55 detik.

“Saya tidak menyangka bisa menyetak rekor baru. Ini adalah kompetisi terbaik yang pernah saya ikuti dan saya sangat menikmatinya,” ujarnya usai menaklukkan tantangan Rinjani 36k.
Untuk kategori kategori 27 kilometer, pelari Indonesia, Akhmad Nizar keluar sebagai yang tercepat dengan catatan waktu 4 jam 5 menit 56 detik. Akhmad mengalahkan 78 peserta lainnya. “Ini di luar dugaan, target saya justru di 3 jam 59 menit. Karena tadi sempat kram jadi agak terlambat,” aku Akhmad di garis finis di Sembalun.

Atlet Prancis Melissa Graye, pemenang Rinjani 36k.

Torehan Akhmad memecahkan rekor sebelumnya yang juga dicatatkan pelari Indonesia, Muslyadin dengan dengan waktu tempuh 4 jam 41 menit 1 detik.
“Trek Rinjani ini luar biasa. Tanjakan dan medannya ekstrim banget,” kata pria muda asal Jember, Jatim ini.
Rekor anyar juga dicetak di kelas perempuan 27K. Hebatnya, seorang ibu rumah tangga asal Indonesia, Sri Wahyuni, menjadi yang tercepat. Sri memecahkan rekor dengan catatan waktu 5 jam 6 menit 10 detik, jauh lebih cepat dari catatan waktu sebelumnya yang ditorehkan Amanda Edyawan, 7 jam 24 menit dan 33 detik.
Ia mengaku, tidak menyangka bakal memecahkan rekor 27K. “Sebelumnya saya perkirakan hanya bisa finish dalam 6,5 jam, ternyata Tuhan berikan saya kekuatan untuk bisa menyelesaikan lomba lebih cepat,” ujar Sri di garis finish.(*)

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com