LIA Disarankan Menjadi Bandara Halal

MATARAM—Sudah sepatutnya, Lombok International Airport (LIA) mengusung standar airport halal. Sehingga wisatawan muslim yang berkunjung tidak mengalami kesulitan ketika hendak beribadah di kawasan bandara.
‘’Saya membayangkan Lombok International Airport menjadi bandar udara halal. Saya sarankan Lombok International Airport juga menggunakan bahasa Arab,’’ kata Sekda NTB, DR H Rosiady Sayuti saat membuka Rembuk Republik di aula Islamic Center, Kamis (8/6).

Sekda NTB, DR Rosiyadi Sayuti saat membuka Rembuk Republik

Sehingga kata dia, ada kekhususan pariwisata NTB dalam menarik wisatawan. Rosiyadi mengumpamakan, dunia pariwisata itu adalah dunia ketertarikan. ‘’Kita ingin membuat imaje (kesan,red), ketika orang menyebut halal tourism, orang berpikir Lombok. Mumpung Lombok lebih dulu meraih halal tourism ini, kita harus benar-benar memanfaatkan brand ini. Sehingga kita bisa menggeser Malaysia yang selama ini paling banyak dikunjungi wisatawan muslim dunia,’’ jelas Rosiyadi penuh semangat.

Rembuk Republik bertema Kontribusi Wisata Halal dalam Pembangunan Nasiona yang dipandu Pimred Harian Republika, Irwan Kelana ini menghadirkan tiga pembicara. Yakni, Asisten Deputy Pengembangan Segmen Pasar Bisnis dan Pemerintah, Kemenpar RI, Tazbir, Ketua IICF, Priyadi Abdi, dan Konsultan Airline, Farshal Hambali.

Sejak Lombok meraih dua penghargaan bergengsi, World Halal Tourism dan Best Honeymoon Destination, Lombok mendadak menjadi perhatian dunia international. Wabilkhusus, bagi para treveler muslim dunia.

Tazbir saat menyampaikan materi di Rembuk Republik di aula islamic Center

Menurut Tazbir, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Lombok Sumbawa setelah menyandang penghargaan kelas dunia ini. Mulai dari menyiapkan sarana pendukung dan kesiapan sumber daya masyarakat.

Yang jelas kata dia, brand halal disini adalah bisnis. ‘’Halal itu bisnis. Halal itu cara berpikir kita. Dan halal itu persaingan,’’ ungkap Tazbir.
Seperti di Sembalun sebutnya, banyak wisman datang tetapi Tazbir belum melihat konsep wisata halal dikembangkan di lereng Rinjani tersebut. ‘’Saya sarankan, di setiap kabupaten di NTB ini dikembangkan satu desa halal. Yakni, desa yang benar-benar memahami konsep halal tourism,’’ terang mantan Kadis Pariwisata Jogjakarta ini.
Akan halnya Priyadi Abdi, pebisnis wisata yang konsen pada wisata muslim ini menerangkan sejumlah alasan kenapa ia beralih ke wisata muslim. Menurut dia, saat ini pengusaha travel muslim terlena mengelola perjalanan umrah dan haji saja. Sehingga, treveler muslim yang hendak piknik ke negara-negara nonmuslim kurang dilirik.
‘’Halal tidak saja sebatas makanan atau produk kecantikan. Tetapi halal itu berevolusi pada sektor perbankan. Bahkan, halal sudah menjadi gaya hidup,’’ ujar Priyadi seraya memberikan sejumlah saran kepada pemerintah pusat maupun Dinas Pariwisata NTB dalam mengembangkan wisatawan halal.

Peserta Rembuk Republik di Aula Islamic Center

Sementara Konsultan Airline, Marshal Hambali membeberkan kondisi dunia penerbangan di Bali yang menurutnya sangat menguntungkan Lombok. ‘’Saat ini bandara Bali sudah hampir penuh. Ini keuntungan Lombok. Kedepan, penerbangan langsung ke Lombok harus ditambah,’’ jelas Marshal.
Sesuai bidanganya, pria yang sudah 22 tahun bekerja di maskapai ini membahas tentang air connectivity. Ia lantas mengusulkan, para stakeholder di NTB kembali melakukan komunikasi dengan maskapai-maskapai penerbangan dari Timur Tengah.
Ditempat yang sama, Kepala Dinas Pariwisata NTB, HL Mohammad Faozal dalam laporannya menyampaikan, Rembuk Republik ini dilaksanakan sebagai rangkaian Festival Pesona Khazanah Ramadan 2017 di Islamic Center NTB. Selain sebagai media sosialisasi wisata halal, Rembuk Republik juga sebagai wahana tukar informasi maupun pengalaman dalam pengembangan wisata halal yang lebih baik lagi di NTB.
Kegiatan ini jelasnya dihadiri para Kepala SKPD lingkup Pemprov NTB, para pelaku atau asosiasi usaha wisata di NTB, seperti BPPD NTB, PHRI NTB, HPI NTB, ASITA NTB, INCCA NTB, ASPPI NTB, termasuk media, lokal maupun nasional. “Sejauh ini, sudah ada 12 even dari 28 item even yang akan diselenggarakan untuk memeriahkan pelaksanaan Festival Pesona Khazanah Ramadan 2017, selama sebulan penuh,” pungkasnya. (*)

Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com