Hasanah Tourism BNI Syariah Dukung Halal Tourism NTB

Mataram – Sejak 16 tahun lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa bahwa praktik perbankan konvensional dan asuransi konvensional termasuk riba dan bertentangan dengan syariah Islam. Sayangnya, fatwa Dewan Syariah Nasional nomor 20/DSN-MUI/IV/2001 itu terkesan disembunyikan.
Ironisnya, dari sekitar 85 persen masyarakat muslim Indonesia baru lima persen yang menggunakan perbankan syariah. Untuk itu, BNI Syariah menggarap peluang perbankan berbasis syariah Islam.

Khusus di Nusa Tenggara Barat (NTB), BNI Syariah berkomitmen mendukung pengembangan industri pariwisata halal Lombok Sumbawa. Hal itu diungkapkan Direktur Utama BNI SSyariah Abdullah Firman Wibowo dalam Business Gathering Halal Tourism Lombok di Hotel Aruna Senggigi, Rabu (3/8). ”Berdasarkan data mastercard-crescent rating, Indonesia masuk peringkat tiga sebagai daerah tujuan wisata muslim dunia. Data ini kita dapat dari Global Muslim Travel Index (GMTI) 2017,” jelas Abdullah di hadapan ratusan pelaku wisata NTB.
Selain itu sambung Abdullah, berdasarkan data Association of the Indonesia Tour and Travel Agencies (ASITA), potensi wisatawan halal tourism sebesar 15 juta wisatawan dengan jumlah transaksi sekitar Rp 223 triliun. “Indonesia dengan jumlah muslim terbesar di dunia, memberikan potensi cukup besar terhadap pengembangan wisata halal,” ujarnya.
Sebagai daerah penyandang World’s Best Halal Tourism Award 2016, saat ini pariwisata NTB mendapat perhatian serius dari BNI Syariah. Melihat potensi ini kata Abdullah, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku industri wisata, dan lembaga keuangan.

Data juga menyebutkan, dalam kurun waktu 2015-2016, wisatawan muslim yang berkunjung ke Lombok meningkat 50 persen dari satu juta menjadi 1,5 juta. Sedangkan target kunjungan wisatawan NTB 2017 ini sebanyak 3,5 juta orang.

Karena tingginya minat masyarakat akan kebutuhan wisata halal, BNI Syariah meluncurkan program wisata halal bertema Hasanah Tourism. Program ini sejalan dengan tujuan BNI Syariah untuk menjadi mitra hasanah (Hasanah banking partner) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk dalam hal berwisata dengan fasilitas serba halal.

Alhamdulillah sebut Abdullah, BNI Syariah dan Dinas Pariwisata NTB dapat bersinergi untuk mendukung perkembangan sektor wisata halal. Program ini diharapkan dapat memberikan kontribusi positif bagi akselerasi pertumbuhan UMKM dan perekonomian dari sektor pariwisata. “Selain itu, BNI Syariah berharap dapat mempermudah akses masyarakat untuk menikmati wisata halal melalui Hasanah Card yang dapat menjadi kartu pembiayaan dan dapat dimanfaatkan sebagai kartu treveling,” tandasnya.

Selain para pelaku dan pebisnis pariwisata, gathering business ini dihadiri Sekda NTB, DR Rosyiadi Sayuti, Kadispar NTB, HL Muhammad Faozal, Ketua MUI NTB, Prof. H Saeful Muslim, Ketua PHRI NTB, Hadi Faisal, dan Ketua LPPOM MUI, Hj Rauhun. “Wisata halal adalah pilihan tepat. Masalah wisata halal ini tidak lepas dari promosi. Dan promosi itu tidak lepas dari branding,” ujar Rosyiadi yang mengaku baru pulang mempromosikan wisata halal dari London Inggris ini.

Rosyiadi yakin, penempatan lokasi gathering ini tidak akan terjadi jika tidak ada promosi dan lobi-lobi dari Lombok. “Wisata halal ini adalah branding baru untuk menarik segmen muslim treveler dunia,” kata Rosyiadi.

Sekda juga menegaskan, saat ini pariwsata NTB sudah on the trek. “Kehadiran BNI Syariah ini merupakan salah satu bukti nyata bahwa pariwiasata NTB sudah on the trek,” tegasnya.
Di tempat yang sama, Kadispar NTB HL Muhammad Faozal juga mengungkapkan perkembangan positif pariwisata halal Lombok Sumbawa. Ia juga menyampaikan seputar hadirnya maskapai penerbangan Korean Air yang sudah dua kali masuk Lombok. “Senin (1/8) lalu, 194 wisatawan Korea Selatan masuk Lombok. Dan baru saja (Rabu 3/8), pesawat carter Korean Air kembali mendarat membawa 208 wisatawan,” ungkap Faozal. (*)
Apink Alkaff

[modal_login_button size=btn-large align=rhl-left]

About UTARAKITA

UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda