Selalu ada Alasan Mendaki Rinjani

Ada yang bilang, mendaki Rinjani tidak mesti sampai puncak. Keindahan dan eksotisme Danau Segara Anak dengan segala godaanya terkadang membuat pengunjung merasa sudah klimak dalam mencari kepuasan mendaki Rinjani.
Ada juga yang bilang, ke puncak 3.726 mdpl (meter diatas permukaan laut) itu cukup sekali saja. Artinya, anda benar-benar membutuhkan alasan lebih ke puncak Rinjani untuk kali dua, ketiga, atau keempat. Bahwa mengantar kawan dan sahabat yang belum pernah muncak selau menjadi alasan kita muncak lagi.

3.726

Apink Alkaff – Rinjani

Lahir dan besar di Lombok membuat kami cukup mengenal Gunung Rinjani. Baik karakteristik gunungnya, maupun tempat-tempat indah yang tersembunyi di setiap sudutnya.
Sejak kami beranjak dewasa, Rinjani tidak saja menjadi tempat ‘’bermain’’kami, tetapi Rinjani sudah seperti ‘’rumah’’ kami.
Rumah yang akan selalu kami jaga dan kami hormati. Dan rumah yang selalu dirindukan.
Bagi kami, mendaki Rinjani tidak hanya soal menikmati keindahan alam atau sekedar merayakan upacara kemerdekaan 17 Agustusan.
Tetapi bagi kami, mendaki Rinjani adalah ziarah alam. Ziarah hati kepada ibu pertiwi.
Dan bagi kami, mendaki Rinjani tidak semata karena tuntutan hobi atau sekedar mencari eksistensi diri. Bagi kami, mendaki Rinjani adalah perjalanan pulang. Pulang ke pangkuan Sang Dewi. Dewi Anjani dengan segala keindahan dan inspirasi yang tersirat di dalamnya.
Bagi kami, mendaki Rinjani bukan soal sebarapa jauh kaki sanggup melangkah. Tetapi, sebarapa bijak kita mensyukuri nikmat Tuhan Semesta Alam yang melimpah.
Bagi kami, mendaki Rinjani tidak hanya soal kesanggupan kaki memijak puncak. Tetapi bagi kami, mendaki Rinjani lebih pada panggilan hati yang selalu membuncah.
Panggilan hati untuk memenuhi undangan Dewi Anjani? Panggilan hati untuk kembali mencumbu pasir berbatu puncaknya, atau gairah untuk menikmati romantisnya mandi air belerang panas di rahim Anjani? (Bersambung)

About apink alkaff

apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com