You are here
Home > ADVENTURE > Bahkan Debu di Komplek Makamnya Diyakini Menyembuhkan Penyakit

Bahkan Debu di Komplek Makamnya Diyakini Menyembuhkan Penyakit

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (10)

Menjadi bagian dari komunitas penting merupakan satu berkah yang ternilai. Rangkaian kebaikan yang diukir para pendahulu, hingga kini masih meninggalkan jejak segar.

Suasana tengah malam di Komplek pemakaman Alhabib Abubakar bin Salim dan saudara kembarnya Alhabib Agil bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.
Suasana tengah malam di Komplek pemakaman Alhabib Abubakar bin Salim dan saudara kembarnya Alhabib Agil bin Salim di Kota Inat, Hadramaut.

Apink Alkaff – Lombok

Nama besar ulama -ulama Hadramaut yang telah mendedikasikan hidup di jalan Allah SWT tetap hidup diantara nafas kaum muslimin dunia. Bahkan, ajaran dan nasehatnya menjadi inspirasi. Terbukti dengan seringnya nama-nama ulama besar itu disebut dan dikenang penduduk Hadramaut, wabilkhusus penduduk Tarim. Seperti, nama Alfagih Mukaddam, Alwi Alguyur, Abubakar Syakran, dan Abdullah bin Alwi bin Muhammad Alhaddad. Atau, keistimewaan Alhabib Abubakar bin Salim yang jasadnya dikebumikan di Kota Inat.

Makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat ini jaraknya sekitar 35 kilometer dari Kota Tarim. Semua Bani Alawiyin yang bermarga Bin Syeh Abubakar, kembali ke Habib Abubakar  bin Salim ini. Tak hera, makam salah satu aulia besar di Hadramaut ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi.

Setelah menunggu sekitar satu minggu di Tarim, berziarah ke makam Habib Abubakar bin Salim akhirnya terkabulkan. Maklum, kerabat sekaligus pemandu ziarah saya selama di Hadramaut, Osama bin Syeh Abubakar, tengah belajar dan berhidmat kepada Mufti Tarim, Habib Ali Masyhur. Artinya, ziarah ke Inat baru bisa kami jalani setelah mendapat izin dari Mufti sekaligus pemuka Tarim.

Osama Bin Syeh Abubakar, santri asal Kopang, Lombok, mendampingi Mufti Tarim, Habib Ali Masyhur.
Osama Bin Syeh Abubakar, santri asal Kopang, Lombok, mendampingi Mufti Tarim, Habib Ali Masyhur.

Kebetulan, selama satu minggu di pertengahan Maret 2013 lalu itu, jadwal pengajian Habib Ali Masyhur dikosongkan. Maklum, pemimpin Tarim ini tengah persiapan menggelar akad nikah tiga cucunya. Nah, di saat-saat luang itulah, saya dan Osama berkesempatan berziarah ke makam Habib Abubakar bin Salim di Kota Inat.

Kerinduan yang membeku mulai mencair ditiup dingin malam sepanjang perjalanan Tarim-Inat. Ujung musim dingin yang menyisakan suhu ekstrim kami lalui dengan penuh canda. Meski, hanya dengan menunggang sepeda motor buatan Cina yang tidak bisa lari kencang. Sambil menarik tali gas, Osama Bin Syeh Abubabar, santri asal Kopang, Lombok, mengisahkan sejarah singkat Habib Abubakar bin Salim semasa hidupnya.

Sejarah mencatat kata dia, selama 40 tahun masa hidupnya, Habib Abubakar bin Salim tidak pernah tidur. Untuk mengisi malamnya selama 40 tahun itu, Habib Abubakar bin Salim bermujahadah dengan berjalan kaki untuk mengisi tempat-tempat wudhu masjid dan musalla di sepanjang jalan dari Kota Inat sampai Tarim. Kemudian kembali lagi pada malam yang sama dan melakukan hal yang sama dari Tarim ke Inat.

Tidak itu saja, selama 40 tahun, Habib Abubakar bin Salim disebut selalu duduk seperti duduknya orang salat. ’’Selama perjalanan dari Inat ke Tarim dan kembali ke Inat, Habib Abubakar bin Salim selalu menjaga wudhu’nya,’’ jelas Osama menahan dingin di atas motor.

Tak terasa, perjalanan menembus jalan sepi, lurus, kering, dan amat dingin itu sudah kami lalui selama sekitar 35 menit. Kami tiba di Kota Inat sekitar pukul 23.30 waktu setempat. Kubah-kubah putih di komplek pemakaman Inat sudah terlihat dari jarak dua kilometer. Kubah-kubah itu tampak lebih benderang dan bercahaya ketimbang bangunan lain di kota itu.

Makam Habib Abubakar bin Salim dan Umar Muhdar di Kota Inat, Hadramaut.
Makam Habib Abubakar bin Salim dan Umar Muhdar di Kota Inat, Hadramaut.

Sejumlah pemuda bersarung di tengah kota sepi itu tampak masih terjaga. Seperti umumnya warga Tarim, para pemuda Inat tadi tersenyum rahat dan membalas salam kami. Malam kota sunyi itu tampak kering, namun ramah. Tampak, beberapa rumah yang mulai tergerus waktu dan tanpa penghuni.

Seperti di komplek pemakaman Zanbal, tanah di dalam komplek pemakaman Inat juga terasa dingin. Tapak-tapak kaki saya yang tak beralas terasa nyaman saat menyentuh permukaan tanah lembut di sekitar komplek makam Habib Abubakar bin Salim itu.

Sekitar 10 meter di sisi barat kubah Habib Abubakar bin Salim, terdapat makam saudara kembarnya, Agil bin Salim. Habib Abubakar bin Salim adalah kakek dari keturunan Bani Alawi yang bermarga Bin Syeh Abubakar. Sedangkan Habib Agil bin Salim adalah kakek dari semua keturunan Bani Alawiyin yang bermarga Bin Agil.

Dalam sejumlah kisah, perjalanan hidup Habib Abubakar bin Salim lebih populer ketimbang saudara kembarnya. Namun demikian, sejarah juga menyebutkan, Habib Abubakar bin Salim terkenal lantaran karomah saudara kembarnya Habib Agil bin Salim.

Artinya, dua saudara kembar ini tercatat sebagai ulama kembar dengan karomah besar. Bahkan, debu di komplek pemakaman Inat ini diyakini mampu menyembuhkan penyakit. (bersambung*)

 

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top