You are here
Home > ADVENTURE > Budaya > Banyak Ahli Agama yang Dikirim ke Indonesia – UTARAKITA

Banyak Ahli Agama yang Dikirim ke Indonesia – UTARAKITA

Ziarah ke Hadramaut, Negeri Para Aulia (7)

Makam Sayyidina Al Ustadzul A’zam Muhammad Al Fakih Mukaddam di Komplek Pemakaman Zanbal, Tarim, Yaman.
Makam Sayyidina Al Ustadzul A’zam Muhammad Al Fakih Mukaddam di Komplek Pemakaman Zanbal, Tarim, Yaman.

Mundur sejenak ke tahun 653 Hijriah ketika massa itu dipimpin Sayyidina Al Ustadzul A’zam Muhammad Al Fakih Mukaddam. Pada zaman itulah diutus banyak ulama pilihan asal Tarim ke Indonesia untuk menyebarkan Islam. Belakangan, utusan-utusan Tarim ini dikenal sebagai ulama-ulama pertama dan penyebar agama Islam di nusantara.

Alhamdulillah, mempelajari selembar pelajaran nasab (keturunan) dari Osamah Bin Syekh Abubakar membuat saya sedikit memahami sejarah Islam masuk negeri ini. Dari pemuda berkacamata inilah saya juga banyak memahami ranting-ranting nasab Bani Alawiin.

Seperti halnya saya yang tertarik mempelajari ‘’pohon’’ nasab, Osama juga selalu bersemangat membedah selembar pohon akar keturunan yang diteken Mufti Tarim, Habib Ali Masyhur bin Hafidz (masih keturunan Bin Syekh Abubakar). Palu urusan nasab, kata Osama yang putra kelahiran Jelojok, Kopang, Lombok Tengah ini, dipegang Mufti Tarim yang masih kakak kandung Habib Umar bin Hafidz.

Osamah Bin Syeh Abubakar, santri asal Kopang di hadapan ujung makam Nabi Allah Hood, Hadramaut, Yaman Selatan. (photo: Apink Alkaff)
Osamah Bin Syeh Abubakar, santri asal Kopang di hadapan ujung makam Nabi Allah Hood, Hadramaut, Yaman Selatan. (photo: Apink Alkaff)

Karena posisi Mufti Tarim dan ketingguan ilmunya, Habib Ali Masyhur bin Hafidz kerap diibaratkan seperti Sayyidina Fagih Mukkaddam pada zamannya. Beruntung, Osama dipilih sebagai ajudan atau orang terdekat Ali Masyhur dalam setiap kegiatan dakwah sehari-hari. ‘’Terkecuali ketika Habib Ali Masyhur memberikan pengajian putri, maka ana harus menyingkir jauh-jauh dan menunggu di luar tempat pengajian,’’ tutur Osama dalam dialek Sasak khas Jelojok, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat.

Tidak saja urusan nasab, palu hakim penentuan ilmu hukum dalam Islam juga dipegang Mufti Tarim. Kesempatan emas sebagai orang terdekat Mufti Tarim inilah yang membuat Osama banyak memahami pohon nasab yang sering kami buka.

Kembali ke lembar pohon akar keturunan tadi. Sayyidina Fakih Mukaddam ini mempunyai ayah bernama Ali. Ali memiliki saudara, Ahmad, Abdollah, dan Alwi. Nah, Alwi (Ammul Fakih) bin Muhammad (Sohibul Mirbad) inilah yang mempunyai empat putra, Ahmad, Abdollah, Abdurrahman, dan Abdul Malik.

Ahmad bin Alwi menurunkan marga Haneman, sedangkan saudaranya Abdollah banyak menurunkan sejumlah marga yang kini ada di Filipina. Abdurrahman mempunyai tiga cucu dari Ahmad Alfagih; Alwi, Abdollah, dan Muhammad. Dari Alwi menurunkan marga Bin Thohir, Ba’bud Magfun, Bin Smith, dan Annadziri. Sedangkan dari Abdollah menurunkan marga Alhaddad, Bafaraj, Aidit, Bafagih, Bahasan, dan Al Baiti. Akan halnya dengan keturunan dari Abdul Malik, banyak terdapat di India. Seperti, keturunan Ba’alawi yang bermarga Ngazimat Khan di Gujarat, India.

Menara Masjid Alhaddar, Tarim, Yaman Selatan.
Menara Masjid Alhaddar, Tarim, Yaman Selatan.

Jika ditarik keatas lagi, keturunan dari Muhammad (Sohibul Murbad) bin Ali Khaliq Kasam inilah yang banyak melahirkan sejumlah marga di Hadrmaut maupun di Indonesia. Pasalnya, Ali Khalik Kasam hanya mempunyai satu saudara laki bernama Hasim yang tidak mempunyai keturunan.

Ali Khaliq Kasam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Isa (Al Muhajir) ini tercatat sebagai keturunan Bani Alawi pertama yang dimakamkan di Zanbal. Nisannya masih satu atap dengan Fakih Mukaddam, Alwi Alguyur, dan Abdurrahman Assegaf dan puluhan aulia di komplek pemakaman khusus habaib di jantung Kota Tarim itu.

Di setiap batu nisan tergores jelas nama beserta kelebihan atau karomah pemilik makam itu.alhasil, Ziarah ke Zanbal adalah membaca cerita bersambung yang tak berujung.

Dari sekitar lima pemandu ziarah yang pernah membawa ana keliling kota, ceritanya selalu sama. Tak terasa, wisata religi di komplek pemakaman Zanbal ini seperti merangkai untaian sejarah yang penuh kebaikan.

Kenyamanan berziarah dan belajar pun terasa sempurna ketika dilakukan di komplek pemakaman cucu-cucu Rasulullah SAW. Nisan-nisan batu cadas ratusan ribu aulia yang disemayamkan di tanah Zanbal ini pun selalu menebarkan aroma semerbak harum. Panca indera terpuaskan nikmat kebaikan yang sulit terungkap kata.

Rata-rata ziarah di Zanbal membutuhkan waktu paling singkat dua atau atau tiga jam. Tetapi akan membutuhkan waktu minimal satu semester hanya untuk memahami alur pertalian akar keturunan yang tergores di setiap nisannya. (bersambung)

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top