You are here
Home > EKONOMI BISNIS > Darurat Sampah, Gili Berbenah

Darurat Sampah, Gili Berbenah

Sekitar 2006 lalu, Pemda Lombok Barat yang kala itu dipimpin H Iskandar (alm) pernah hampir sukses menaturalisasi kawasan pantai Gili Trawangan. Alasannya, tentu karena bangunannya menyalahi aturan.
Sayangnya, kala itu wisata GT baru mulai menggeliat. Sebagian besar pengusaha, khususnya pengusaha bar dan resto kawasan central menentangnya. Tak terkecuali, si Kepala Naga GT kala itu, Zainal Tayeb (ZT) yang juga owner Vila Ombak.

Penentangan normalisasi GT itu juga disepakati pengusaha kakap lain dan aparat desa setempat.

Prescon naturalisasi Gili Trawangan di kantor Dinpar NTB

Penentangan itu menang. Almarhum Fahmi Syahab, atau yang akrab disapa Abah Fahmi sukses meloby Iskandar. Dengan syarat, Fahmi dan pengusaha serta masyarakat Gili T mematuhi ksepakatan bersama (awig-awig).

Meski bentuk konkrit awig-awig itu tidak pernah terpublish, coretan awig-awig kesepakatan antara Fahmi yang mewakili pengusaha dan Bupati Lobar itu pun lahir. Salah satu bunyi kesepakatannya, dilarang adanya bangunan tertutup di tepi pantai.
Rupanya, geliat perkembangan wisata Tiga Gili ini lebih pesat dari yang diperkirakan. Bahkan, perkembangannya lebih cepat dari pulau induknya, Lombok. Buktinya, nama Gili lebih populis ketimbang Lombok itu sendiri.

Pembongkaran bar dan resto di Gili T, Selasa (22/2).

Belakangan, awig-awig itu pun mulai dilangar. Sampah sampah mulai menggunung di tengah-tengah pulau. Pembuangan limbah hotel juga kian tak terkontrol. Ironisnya, persoalan sampah inipun sempat dimanfaatkan segelintir oknum untuk meraup keuntungan pribadi.

Tak terhindari, sampah menjadi persoalan akut dan sangat mengganggu kenyamanan wisatawan. “Kalau sampah bangunan di pelabuhan ini masih seperti ini, saya tidak akan mengalirkan listrik ke pulau ini,” kata Dahlan Iskan yang kala itu membawa semua direksi PLN untuk mencari solusi persoalan listrik di Gili T.
Syukurnya, kini para pengusaha dan Pemda Lombok Utara sepakat untuk menormalisasi pantai GT. Dan rupanya, masyarakat dan pengusaha Gili T sudah kian dewasa menyikapi persoalan ini.

Pembongkaran di Gili T, Selasa (22/2)

Tentu, penataan gili yang lebih serius dan cepat mutlak dibutuhkan. Ketegasan pemangku kebijakan harus ditingkatkan. Dan kini, dibutuhkan kerja masif dan gerakan bersih bersih bersama di Gili T untuk menanggulangi bongkaran sampah restauran-restauran yang memenuhi kawasan pantai.
Memang, ada harga cukup mahal yang harus dibayar untuk membenahi primadona utara ini. Namun, diyakini harga itu akan sangat pantas untuk satu hasil yang alami. Karena alami itu memang mahal.

Dua mobil sampah diturunkan ke Gili Trawangan, Selasa (22/2).

Eit, selain melarang bangunan permanen di tepi pantai, awig-awig juga melarang kendaraan bermotor di gili. Poin ini juga dilanggar.

Karena kali ini gili dinilai darurat sampah, pemerintah menurunkan dua kendaraan pengangkut sampah. Hanya untuk sementara tentunya.

Dalam jumpa pres Kadis Pariwisata NTB, HL Mohammad Faozal menjelaskan, sosialisasi penertiban bangunan yang melanggar garis pantai di Gili Trawangan sudah dilakukan sejak lama. Hasilnya, semua pengusaha dan warga Gili Trawangan menyambut baik. “Penertiban ini dilakukan untuk mengembalikan kawasan publik dan mempercantik Gili Trawangan,” ujar Faozal.

Diperkirakan kata Faozal, penertiban ini akan memakan waktu 20 hari. “Untuk membersihkan 18 ton sampah sisa bongkaran inilah pemerintah mendatangkan dua unit kendaraan. Kendaraan ini hanya beroperasi dari jam 3 dini hari sampai pukul 7 pagi,” terangnya. (*)

Apink Alkaff

Foto-foto; emakjaden
#savegili #gilidaruratsampah #giliberbenah

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top