You are here
Home > LIFE STYLE > Daulat Pohon dan Gerakan Hati untuk Bumi

Daulat Pohon dan Gerakan Hati untuk Bumi

 ‘’Daulat pohon, berdaulat pada ibubumi, karena kita manusia’’. Penggalan kalimat itu tentu akan membuat orang bertanya-tanya, apa sih maksudnya? Sedikit saya mencoba menjelaskan, dan tanpa bermaksud menggurui.

Dedy Aryo – Mataram, Lombok

Kondisi bumi terkini. Ketika arus deforestisasi begitu dahsyat. Memangkas pohon-pohon sumber kehidupan. Menebang pohon dan mengolahnya menjadi kertas. Yang kemudian kita menulis; Stop penebangan pohon atau stop illegal logging. Menebang pohon kemudian mengolahnya menjadi apa saja. Membuat kita seharusnya merasa mempunyai hutang besar kepada ibubumi. Ibu yang mengasuh pepohonan itu.

Satu manusia mempunyai hutang tujuh batang pohon dalam hidupnya. Tetapi kita hanya bisa diam dan memandang layar televisi yang memberitakan kerusakkan alam. Diam tanpa berbuat apa-apa.

Sebagai seorang muslim. Muslim yang kadang terkadang dicap nakal atau bandel ini, saya mencoba memahami makna kontekstual, bukan semata tekstual tentang betapa pentingnya pepohonan bagi kehidupan. Terlebih hal ini juga telah diriwayatkan Aisyah; Ia berkata, “Rasulullah SAW pernah bersabda ; مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ  ( Artinya : Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka – Shahih, HR al-Baihaqi [IV/117])

Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pepohonan bagi kehidupan. Ancaman keras tersebut secara eksplisit merupakan ikhtiar menjaga kelestarian pohon.Karena keberadaan pepohonan tersebut banyak memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Salah satu prinsip dalam Islam adalah menjadi rahmatan lil ‘alamin. Islam memiliki visi menjadi rahmat tidak hanya untuk manusia, tapi seluruh makhluk alam ini.

Spirit itu menghadirkan warna tersendiri dalam ajaran Islam. Dengan visi itu juga, Islam menjadi agama yang memiliki kepeduliaan atas alam ini.

Saya termasuk jenis manusia yang suka perjalanan dan menelusuri setiap sendi-sendi kehidupan. Menapaki hijaunya hutan dengan pepohonan rimbun. Menjejak di puncak-puncak tertinggi.

Perjalanan-perjalanan kadang meninggalkan jejak makna mendalam. Membasuh jiwa dengan rasa syukur kepada Illahi. Berkelana mengarungi hidup dan terus mencari untaian arti makna itu sendiri.

Dalam pelukan kabut, saya terkadang begitu takjub dengan deretan pepohonan yang menghiasi pegunungan. Kagum dengan ketegarannya berdiri menantang angin. Salut dengan fungsinya dalam kehidupan.

Coba bayangkan, pohon yang menjulang ke langit, terutama pohon-pohon dengan usia ratusan tahun. Selain merekam jejak persitiwa sebagai saksi bisu kehidupan, pohon yang menjulang tinggi sanggup bernafas lebih baik.

Kita semua tahu bahwa daun-daun pepohonan selalu bernafas. Dan yang menakjubkan disini adalah kebutuhan bernafas pepohonan adalah kebalikan dari kebutuhan bernafas manusia. Ketika pohon bernafas, pohon menghirup karbon dioksida dan melepaskan oksigen. Sementara manusia akan menghirup oksigen dan melepaskan karbon dioksida.

Sebuah harmoni yang begitu indah bukan? Proses simbiosis mutualisme. Sayangnya, sebagian manusia melupakan fungsi tersebut dan hanya menjadi perusak.

Coba bayangkan apabila pepohonan bernafas dengan menghirup gas-gas yang dibutuhkan manusia! Maka bumi ini dalam jangka waktu cukup singkat akan menjadi tempat yang tidak layak huni. Karena, sedikit demi sedikit oksigen akan tersedot habis. Dan tidak akan ada lagi yang tersisa di udara, kecuali karbon dioksida. Jenis gas yang dapat membunuh manusia.

Hanya menanam yang bisa kita lakukan. Menghijaukan kembali ruang-ruang kota. Mencoba bekerjasama dengan alam dan hidup harmonis.

Sesungguhnya, rahmat Allah SWT datang dengan udara yang bersih dan akan hilang dengan udara yang tercemar. Dan kami tidak ingin kehilangan rahmat besar itu.

Inilah cara kami. Menanam 40 ribu pohon flamboyan (delonix regia) di garis-garis pantai, ruang-ruang kota, dan tanah-tanah kering Lombok Utara. Mencoba membuat destenasi wisata baru untuk kehidupan yang lebih baik.

Pada sebuah pepohonan, bila manusia berakal dan yang mau berpikir, akan melihat bukti kuasa-NYA. Bayangkan saja pelajaran ilahi yang kita coba gali dari sebatang pohon. Ketika bumi menarik air dari permukaann yang tinggi, untuk kemudian menyerapnya ke tingkat paling rendah hingga ke kerak bumi.

Inilah sebuah ketentuan umum. Namun yang menakjubkan di sini adalah pepohonan menyerap air yang ada disekitarnya tanpa perlu menelusurinya hingga bagian paling dalam perut bumi untuk dirubah menjadi lobang air. Akar pepohonan mengantarkan air ke batang-batang dan daun. Bergerak berlawanan dengan gravitasi bumi. Cara kerjanya seperti inilah cara kerja pompa air besar yang membentang dan tersebar di hutan lebat dengan kandungan air yang banyak.

Tanpa suara dan bergerak melawan daya gravitasi bumi. Dan apakah selain Allah kuasa melakukan demikian? Subhanallah, betapa makna dan pertanda itu ada di pelupuk mata dan sedekat urat nadi yang mengaliri tubuh.

Begitu pentingnya sebuah pepohonan hingga  bisa saya ibaratkan sebagai keimanan yang menjadi sendi dalam kehidupan seorang muslim.

أَلَم تَرَ كَيفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصلُها ثابِتٌ وَفَرعُها فِى السَّماءِ

(24) Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya (menjulang) ke langit,

 

تُؤتى أُكُلَها كُلَّ حينٍ بِإِذنِ رَبِّها ۗ وَيَضرِبُ اللَّهُ الأَمثالَ لِلنّاسِ لَعَلَّهُم يَتَذَكَّرونَ

(25) (pohon) itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.

Dalam ayat ini menurut saya, iman dan keyakinan yang benar diumpamakan seperti pohon yang kokoh dan aman dari setiap penyakit. Pohon ini akarnya terhunjam ke tanah dan berbuah baik serta melimpah. Inilah perbuatan baik seorang mukmin. Keimanan yang disimbolkan dengan pohon tersebut, senantiasa tumbuh dan mekar yang menebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Setidaknya, bayangan pohon tersebut bisa dijadikan tempat berteduh. Dibandingkan dengan yang lain, keimanan adalah pohon yang senantiasa berbuah, baik di dunia maupun di akhirat. Tetapi kekuasaan, kekayaaan dan kedudukan serta anak-anak hanyalah pohon di dunia yang terbatas dan singkat masanya.

Dan sebagai seorang muslim yang beriman, sudah seharusnya hidup kita ini bisa memberikan manfaat bagi kehidupan. Langkah kecil yang bisa kita lakukan, selain menjaga kebersihan adalah dengan menanam pohon. Nabi Muhammad saw menggolongkan orang-orang yang menanam pohon sebagai shadaqah. Hal ini diungkapkan secara tegas dalam dalam hadits Rasulullah saw, yang berbunyi :

… قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

Artinya :

“…. Rasulullah saw bersabda : tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, ataupun hewan, kecuali baginya dengan tanaman itu adalah sadaqah”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas).

Seperti juga sering kita mendengar di majelis pengajian, bahwa manusia diciptakan menjadi khalifah di muka bumi. Bahkan, Allah SWT menciptakan alam, lautan, udara dan dareatan bagi kehidupan manusia. Tapi tidak bisa dipungkiri, kerusakkan di muka bumi ini akibat perbuatan manusia itu sendiri.

Khalifah menjadikan manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi dengan menyertakan makhluk lain sebagai bagian dari makhluk Tuhan yang harus dijaga keberadaannya. Maka  sangatlah jelas paradigma yang diusung Islam meliputi  tiga aspek. Yakni, aspek ketuhanan (habl min Allah), aspek kemanusiaan (habl min an-nas), dan aspek hubungan manusia dengan alam (habl min al’alam).

Ketiganya harus berjalan secara beriringan tanpa mengesampingkan satu sama lain. Dengan paradigma itu dapat digunakan sebagai cara berfikir dalam melestarikan pohon-pohon di muka bumi.

Ini tidak lain untuk keberlangsungan hidup kita dan anak cucu kita kelak. Maka melestarikan alam ini menjadi kewajiban kita semua sebagai khalifah di muka bumi. Menjaganya bukan merusaknya. Bila tidak bisa menjaga, janganlah merusaknya. Bila mau menjaga, perbaikilah dengan cara menanam. Selamat datang di program aplikasi Daulat Pohon. Wassallamualaikum

Dan melalui program Daulat Pohon, Pawang Rinjani ini, kami berniat bersedekah kepada bumi. Mendaulat diri dengan persembahan dari hati kepada ibubumi. Kami pun ingin mendaulat anda untuk bergerak bersama menjaga dan merawat bumi. Itulah yang menjadi alasan utama kami menggagas dan mewujudkan gerakan ini.

Alasan yang begitu sederhana. Namun, kami memiliki harapan besar, panjang, dan mendalam. Sekuat akar yang menghujam. Sedalam lembah teduh yang menunggu hadirnya mentari pagi.

Sepanjang semangat kami terjalin tulus dengan semesta, sepanjang itulah kami kan mencoba menyambung silaturrahmi ini dengan alam. Dengan anda, dan dengan Tuhan. (*)

Salam Lestari

Dedy Aryo adalah pegiat dan pemerhati lingkungan yang aktif di Pawang Rinjani.

Editor : Apink Alkaff

 

 

UTARAKITA
UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda
Top