You are here
Home > ADVENTURE > Delapan Jalur Pendakian Anti Mainstream ke Rinjani

Delapan Jalur Pendakian Anti Mainstream ke Rinjani

Saat ini ada dua jalur konvensional yang biasa dipilih pendaki menuju puncak Rinjani maupun Danau Sagara Anak. Yakni, jalur Sembalun dan jalur Senaru. Padahal, ada delapan jalur lain yang menawarkan tantangan dan sensasi berbeda dalam pendakian Rinjani.

Berikut delapan jalur pendakian ke Rinjani yang diperuntukkan hanya untuk pendaki anti mainstream.

Jalur Torean
Jalur Torean (photo: Apink Alkaff)
  1. Jalur Torean, Lombo Utara

Jalur ini kerap menjadi pilihan pendaki tradisional menuju Danau Segara Anak. Jalur Torean, Lombok Utara ini tergolong pendek dibanding jalur lain. Hanya 8-10 jam dari Dusun Torean, pendaki sudah sampai Danau Segara Anak.

Menariknya, jalur ini mengikuti lembah aliran sungai Koko Putek (sungai putih) yang merupakan satu-satunya etalase pembuangan air Danau Segara Anak. Artinya, setelah berjalan enam jam, pendaki bisa dimanjakan mandi air belerang nan hangat di sepanjang jalur ini.

Di jalur ini juga pendaki disuguhkan pesona empat air terjun berwarna putih belerang. Salah satu yang paling keren adalah air terjun Penimbung. Sayangnya, air-air terjun itu letaknya cukup jauh dari jalur Torean. Selain itu, jalur Torean ini tergolong curam dan licin (di musim hujan) lantaran melintasi dinding tebing Sangkareang.

Tiu Teja, salah satu air terjun yang bisa dinikmati di jalur pendakian Santong.
Tiu Teja, salah satu air terjun yang bisa dinikmati di jalur pendakian Santong.
  1. Jalur Santong, Lombok Utara

Jalur pendakian ini masih berada di kawasan Lombok Utara. Jalur ini juga menawarkan lebatnya hutan hujan tropis dan rimba raya yang jarang terjamah manusia.

Jalur ini juga menawarkan keindahan lima air terjun di sepanjang rute pendakian. Karena jarang dipilih pendaki, jalur ini tergolong masih perawan.

Hanya beberapa pendaki setempat yang mengetahui dan masih mengingat jalur ini. Dipastikan, jalur ini akan menyisakan petualangan unik dan menarik yang tak kan terlupakan.

Rinjani dari Jalur Utara
Rinjani dan sisi Utara
  1. Jalur Gumantar, Lombok Utara

Jalur dari Desa Gumantar ini juga berada di Lombok Utara. Tepatnya, antara Jalur Santong dan Jalur Senaru.

Jalur ini juga sangat tidak lazim dipilih pendaki. Maklum, hanya sebagian masyarakat adat Gumantar saja yang mengetahui jalur ini.

Seperti karakteristik jalur Senaru dan Jalur Santong, jalur ini juga menyediakan pemandangan hutan hujan tropis yang masih sangat alami. Bahkan, jika beruntung, pendaki masih bisa bertemu dengan binatang yang menjadi maskot Nusa Tenggara Barat, kijang.

Menariknya, pada bulan-bulan tertentu, masyarakat adat Gumantar menggelar pendakian bersama dan menggelar ritual adat selamatan gunung.

Jalur Sajang. (photo: Anis Gondrong)
Jalur Sajang. (photo: Anis Gondrong)
  1. Jalur Sajang, Lombok Timur

Seperti halnya jalur Torean, karakteristik jalur Sajang, yang masuk wilayah Lombok Timur ini hampir hampir sama. Yakni, sama-sama menyusuri aliran Kokok Putek (Sungai Putih).

Jalur Sajang ini terletak persis di seberang timur lembah Sangkareang atau persisnya menyusuri dinding Bukit Penyesalan Sembalun. Antara Jalur Torean dan Jalur Sajang ini dipisahkan lembah curam aliran Sungai Kokok Putek. Seperti Jalur Torean, Jalur Sajang ini juga menawarkan sensasi menyusuri setapak di dinding terjal dan curam.

Jalur ini juga sangat jarang dipakai pendaki. Hanya pendaki tradisional setempat yang mengetahui jalur yang ada mengikuti jalur pipa air minum masyarakat Sajang, Sembalun, Lombok Timur ini. Menariknya, jalur ini relatif lebih singkat dibanding jalur lain. Cuma enam jam dari pintu masuk sampai Danau Segara Anak. Selain pemandangan yang menakjubkan, habitat flora maupun faunanya di jalur Sajang ini masih sangat alami.

Pelawangan jalur Timba Nuh. (photo: dok. Dian Andayani)
Pelawangan jalur Timba Nuh. (photo: dok. Dian Andayani)

5. Jalur Timba Nuh, Lombok Timur

Jalur ini terletak di sisi selatan Taman Nasional Gunung Rinjani. Pendaki biasanya menyebutnya jalur selatan. Karena jalur ini jarang dipilih pendaki, rutenya masih sangat alami dan menantang. Padang-padang sabana terbentang luas dengan keunikan panorama sisi selatan Rinjani. Alhasil, jalur ini menawarkan tantangan lain dan menarik bagi pendaki yang doyan tantangan.

Jalur Timba Nuh ini pun tergolong lebih pendek dari jalur konvensional Senaru dan Sembalun. Dibutuhkan waktu sehari penuh untuk bisa sampai di sisi selatan Danau Segara Anak. Sayangnya, jalur selatan yang satu ini juga menyediakan jalan turun yang cukup ekstrim untuk bisa mencapai Danau Segara Anak. Artinya, pendaki yang kurang nyali hanya bisa melihat sisi lain Danau Segara Anak tanpa bisa menyentuh air danau atau ‘’bersetubuh’’ dengan air kalak yang merupakan puncak kenikmatan mendaki Rinjani.

Pelawangan jalur Tete Batu. (photo: dok. Arya Marley)
Pelawangan jalur Tete Batu. (photo: dok. Arya Marley)
  1. Jalur Tete Batu, Lombok Timur

Jalur Tete Batu ini juga berada di daerah Lombok Timur. Jarak tempuh melakukan pendakian dari jalur ini dan jalur Timba Nuh hampir sama. Hanya saja, suguhan pemandangan lain dan sisi Rinjani yang unik bisa dinikmati melalui jalur ini.

Jalur ini pun berujung di tebing selatan Danau Segara Anak. Curamnya tebing di Pelawangan Jalur Selatan ini kerap membuat pendaki enggan turun ke danau. Seperti umumnya jalur selatan lain, jalur ini juga berakhir di Pelawangan atau titik dimana Danau Segara Anak terlihat. Artinya, pendaki juga tidak bisa menyentuh air danau dan melanjutkan perjalanan ke puncak.

Asiknya, di pintu masuk Jalur Tete Batu ini banyak tersedia hotel dan penginapan seperti halnya Desa Senaru di Bayan, Lombok Utara.

Pelawangan jalur Benang Stokel. (photo: Karsten van der oord)
Pelawangan jalur Benang Stokel. (photo: Karsten van der oord)
  1. Jalur Benang Stokel, Lombok Tengah

Seperti halnya jalur Timba Nuh, jalur Benang Stokel, Lombok Tengah ini berada di sisi selatan Taman Nasional Gunung Rinjani. Pendaki juga biasa menyebutnya jalur selatan.

Tentu, jalur Benang Stokel ini juga memberikan tantangan dan pesona lain dibandingkan jalur lain. Melintasi hutan hujan tropis dan padang sabana juga menjadi menu utama jalur ini. Di musim hujan, pendaki juga bisa menikmati keindahan air terjun Tiara Dewi Anjani. Air terjun tiga tingkat ini berada di dekat pelawangan jalur Benang Stokel ini.

Di sepanjang jalur ini banyak mata air. Hutannya dipenuhi anggrek, pakis raksasa, dan burung khas Lombok, punglor, yang akan menemani setiap langkah pendaki. Panorama Danau Segara Anak berlatar puncak dari jalur ini sungguh tiada banding. Kerennya, dari Pelawangan Benang Stokel ini sunrise muncul peris dari balik puncak Rinjani.

Jalur ini juga tergolong lebih pendek ketimbang jalur Sembalun atau Jalur Senaru. Sayangnya, pendaki juga sulit untuk turun menyentuh dan menikmati air Danau Segara Ana. Bisa sih bisa turun ke danau, hanya saja jalurnya ekstrim dan membutuhkan peralatan refling lengkap.

Pelawangan Senaru, pertemuan jalur Aik Nyet dan Jalur Senaru. (photo: Anis Gondrong)
Pelawangan Senaru, pertemuan jalur Aik Nyet dan Jalur Senaru. (photo: Anis Gondrong)

8. Jalur Aik Nyet, Lombok Barat

Jalur dari Desa Aik Nyet, Lombok Barat ini tergolong jarang dipilih. Hanya beberapa pendaki lokal dan warga setempat yang pernah mencoba jalur ini. Bahkan, penduduk setempat yang masih ingat jalur ini bisa dihitung dengan jari.

Pastinya, jalur ini menyuguhkan hutan belantara perawan dan keanekaragaman flora dan fauna. Tidak terkecuali, pendaki akan disuguhkan sejumlah air terjun yang jarang terjamah, serta flora dan fauna yang masih sangat alami.

Hanya saja, jalur ini tergolong lebih panjang. Maklum, start awal pendakiannya dari wilayah Lombok Barat ujungnya di Pelawangan Senaru, Lombok Utara. Ujung jalur Aik Nyet ini sama dengan ujung pendakian Jalur Santong di Pelawangan Senaru. (*)

Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top