You are here
Home > NASIONAL > Gebrakan Menteri yang Kedubrak!

Gebrakan Menteri yang Kedubrak!

Beberapa minggu terakhir, dunia pendidikan kembali memanas. Isu dunia pendidikan memang tak pernah surut. Kali  ini dikarenakan adanya wacana Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang baru, Muhadjir Effendy yang mencanangkan program full day school. Dimana anak didik, dalam hal ini para  siswa diharuskan mengikuti pelajaran sekolah sampai sore hari. Tentu saja para pendidik turut serta.

Prokontra yang bergulir beragam. Ada yang mengaminkan hal tersebut, namun tak sedikit juga yang beranggapan, program Mendikbud tersebut dinilai ambisius nan berlebihan. Ada pula yang menilai si menteri baru ini mencari sensasi di awal kepemimpinannya sebagai Mendikbud.

Apakah wacana tersebut memang benar-benar akan membuat dunia pendidikan kita menjadi lebih baik? Bisa ya, bias tidak. Iya, kalau semua pihak serius turut serta menyukseskan program ini. Tapi apa iya? Bagi penulis, wacana harus memunculkan contoh terlebih dahulu. Ok, mau sampai jam lima sore atau seharian pun siswa dan guru siap. Asalkan pemerintah dalam hal ini para pemangku kebijakan dunia pendidikan siap memberikan contoh terlebih dahulu. Silahkan mereka ikut menemani siswa seharian penuh. Entah itu, menteri maupun kepala dinas. Orang tua pun harus ikut serta.Kenapa harus ikut serta? Perlu diingat, guru jangan diposisikan sebagai orang yang mengambil peran penuh orang tua siswa. Bayangkan waktu mereka di sekolah menjadi sebelas jam. Masuk pukul 07.00, pulang pukul 17.00. Sampai rumah istirahat. Sehabis maghrib mengerjakan tugas sekolah. Sehabis itu istirahat. Kapan waktu mainnya siswa? Siswa itu masih anak-anak, mereka butuh bermain dan refreshing otaknya dari kepenatan belajar puluhan mata pelajaran tersebut. Pemerintah sibuk mengejar kualitas dari pada kuantitas trah pendidikan.

Sedangkan, program ini malah akan menjadi bumerang bagi semua pihak, siswa, guru, dinas pendidikan dan kementerian  (pemerintah) itu sendiri. Dengan program semacam ini,  otomatis akan mengakibatkan pembengkakan biaya operasional. Sekolah harus menambah anggaran. Siswa pun harus menambah uang saku, sebab jam mereka di sekolah lebih lama lagi.

Disisi lain, program ini memang bagus. Dan di beberapa sekolah suasta malah sedari lama sudah menjalankan full day school. Beberapa orang tua mengatakan out put dari hasil full day school pun bagus. Iya untuk kecenderungan siswa tertentu. Tetapi yang perlu diingat, itu sekolah swasta. Dan siswa yang bersekolah di sana, biasanya tergolong siswa dari kalangan menengah keatas.  Lebih-lebih orang tua mereka adalah orang tua pekerja, alias sibuk berkarir.

Untuk beberapa sekolah seperti di kota, program ini bagi penulis bias dijalankan. Namun untuk di kabupaten atau daerah, pemerintah perlu mengkaji secara penuh. Sebab, kebanyakan di daerah, orang tua masih membutuhkan pertolongan anaknya, untuk sekedar mencari rumput di sawah, memasak, dan lain sebagainya. Apa ini terlihat aneh? Sungguh tidak, ini malah pendidikan sosial yang didapat anak secara langsung dari orang tuanya, sekaligus berbakti kepada mereka.

Penulis setuju seperti apa yang dikatakan Ketua Umum Lembaga Pendidikan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyadi atau akrab dipanggil Kak Seto terkait full day school. “Jangan terburu-buru tapi akhirnya tidak matang. Harus dilihat pula  kesiapan sekolah untuk memberlakukan sekolah hingga pukul lima sore. Sekolah hingga pukul satu siang saja banyak anak yang stress apalagi akan ada pekerjaan rumah dan sebagainya,” pesan KakSeto.

Senada dengan KakSeto, Psikolog UI, EllyRisman mengatakan, pemerintah, termasuk orang tua, terlalu takut pada masa depan anak dari segi akademis. Akhirnya digemblenglah anak-anak tersebut bak robot. Sekolah dari pagi sampai sore dengan mata pelajaran yang padat. Diikutkan les sana-sini.

Wacana yang selalu berganti dan berubah tiap pergantian menteri, seperti hal  yang mesti berlaku di republik ini. Sampai-sampai kita semua sudah tidak peduli apa pun yang diperintahkan pemerintah, kita semua siap, seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Atau kalau dalam bahasa Islamnya, “Sami’na watho’na”, kami mendengar dan ikuti. Ini bukan karena warga patuh, tapi sudah bosan dengan bejibunnya program pemerintah yang selalu bertambah dan selalu berganti hamper tiap pergantian menteri.

Kita setuju wacana yang ditelurkan pemerintah itu baik tujuannya. Tetapi yang disesalkan kenapa mesti menelurkan produk  (peraturan menteri/permen) yang selalu berubah-ubah. Menteri ini menelurkan produk baru.Kemudian diganti dengan menteri baru, produk sebelumnya diganti pula. Menurutnya, produknya lebih baik dari produk yang lama, begitu seterusnya. Saling klaim produknya lebih baik. Tak habis-habis. Hasilnya? Outputnya? Iya begitu-begitu juga. Pendidik kelimpungan, peserta didik pun limbung.

Menutu opini, penulis kutip satire yang ditulis Prie GS (Penulis, budayawan, dan pemerhati pendidikan) “Saya setuju dengan rencana program one day school untuk membentuk generasi yang tahan banting dan tidak lembek. Anak-anak memang tidak perlu banyak bermain dan siang malam harus mengerjakan PR demi negaranya. Budaya peloncoan harus dikembalikan karena ternyata ia membentuk karakter yang kuat dan tak kenal takut. Ini penting untuk menghadapi musuh negara. Kalau perlu anak-anak harus sering menginap di sekolah untuk tambahan pelajaran. Demi kedekatan hubungan para orang tua sebaiknya juga berkemah di lingkungan sekolah untuk menyemangati putra-putri mereka. Menteri, dirjen, kepala sekolah demi member contoh kerja keras ini seyogianya pulang ke rumah hanya boleh sebulan sekali. Setiap menteri berganti, kurikulum juga harus ganti. Pejabat baru harus membuat gebrakan segebrak-gebraknya agar bangsa ini melahirkan generasi gebrak. ”Apa mereka mau? Menohok bukan!

Oleh: Deki Zulkarnaen

Penulis pernah menjadi wartawan Lombok Post (2014-2015), media analisis, dan pegiat Perpus Kreasi.

 

UTARAKITA
UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda
Top