You are here
Home > LIFE STYLE > Halal Treveler dan Potensi Muslim Treveler Dunia

Halal Treveler dan Potensi Muslim Treveler Dunia

MATARAM — Saat ini, halal treveler sudah menjadi gaya hidup. Terutama bagi para pelancong muslim dunia. Tak heran, sejumlah negara nonmuslim sudah mulai menyediakan kebutuhan-kebutuhan halal menyambut muslim treveler yang saat ini tengah populer. Hal ini terungkap dalam bedah buku bertema Muslim Traveller Solution di Ballroom Masjid Hubbul Wathan, Kompleks Islamic Center NTB, Rabu (7/6/2017). Bedah buku kali ini menghadirkan Priyadi Abadi M.Par, pengarang yang juga pebisnis perjalanan wisata.

Peserta bedah buku Muslim Treveler Solution di Islamic Center.

Dalam bukunya, Muslim Traveller Solution, Priyadi Abadi, mengulas tip dan solusi bagi umat Islam saat melancong ke satu negara yang penduduknya mayoritas non muslim. Menurut dia, dalam travelung lumat Islam sangat memperhatikan aspek kehalalan makanan dan minuman saat berkunjung ke sebuah tempat.
Priyadi juga mengulas seputar bagaimana muslim traveller bepergian atau bertadabur alam tapi tidak meninggalkan kewajiban sebagai seorang muslim. “Buku ini banyak menggambarkan tips dan cara bepergian ke daerah nonmuslim. Karena sekarang banyak negara nonmuslim yang sudah menyiapkan diri menyambut wisatawan muslim,” terang Priyadi yang juga Ketua Indonesian Islamic Travel Communication Forum (IITCF).
Menurut dia, saat ini biro-biro perjalanan muslim belum mampu mengakomodir kebutuhan para muslim traveller untuk melancong ke negara nonmuslim. Banyak para pelaku industri pariwisata belum memfasilitasi kebutuhan wisatawan Muslim. Padahal, dengan segala potensi yang ada, Indonesia harusnya mempunyai keunggulan pada sektor ini.

Pemeran buku-buku cetakan Republika di aula Islamic Center

“Saat ini biro-biro perjalanan muslim masih terlalu nyaman dan hanya fokus pada perjalanan umrah dan haji. Ketika umat islam hendak jalan-jalan ke Eropa atau Amerika, mereka bingung karena tidak terakomodir. Akhirnya umat islam menggunakan travel umum. Sementara travel umum tidak memahami kebutuhan muslim traveler,” ungkap Priyadi.
Priyadi juga menyebutkan, saat ini dunia sudah melihat industri muslim traveller menjadi satu industri yang sangat potensial. “Kita terus berusaha agar negara yang kita kunjungi menyediakan makanan halal dan menyediakan tempat ibadah,” lanjut Priyadi.
Bagi seorang muslim treveler terangnya, kemanapun melangkah, mereka tidak bisa meninggalkan kewajibannya untuk beribadah. Untuk itu, Priyadi juga mempunyai gerakan menyebarkan sejuta peralatan shalat ke beberapa penjuru dunia. Tujuannya, mengedukasi suatu negara yang mayoritas nonmuslim untuk menyediakan kebutuhan ibadah muslim treveler ketika mengunjungi daerah tersebut.
Dalam bukunya ini, Priyadi juga memberi contoh negara-negara Eropa Barat yang sering jadi destinasi wisata para pelancong muslim. Hanya saja kata dia, ada tantangan sendiri soal makanan halal dan fasilitas shalat. Selain itu, dia juga mencoba mengedukasi restoran dan hotel agar bisa memfasilitasi kebutuhan wisatawan muslim.
Lebih jauh dijelaskan Priyadi, para pelaku industri pariwisata di Eropa sudah menyadari akan potensi besar muslim traveller. Bahkan, proyeksi nilai wisata halal pada 2020 bisa menyentuh 2,6 triliun dolar AS. “Saat ini Malaysia menjadi negara tujuan utama muslim treveler dunia,” ungkapnya.
Priyadi menilai Indonesia juga harus terus memantapkan diri dalam mengakomodir para wisatawan muslim yang berkunjung. Yang paling utama tentu adanya sertifikasi halal. Wisatawan muslim mancanegara sangat berpegang teguh pada sertifikat halal yang dikeluarkan otoritas setempat.
“Sertifikasi dan standardisasi halal sudah menjadi acuan wisatawan global. Kalau restoran mengaku halal, harus mencantumkan sertifikat halal. Sebab itu sudah menjadi tuntutan dasar wisatawan muslim dunia,” tambah Priyadi.(*)

Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top