You are here
Home > INTERNASIONAL > Jurnalistik Lingkungan for Climate Change

Jurnalistik Lingkungan for Climate Change

Dalam satu satu paragraf, wartawan dituntut menyajikan satu gagasan. Jika gagasan-gagasan dalam satu berita banyak yang positif, tentu akan memberikan banyak kebaikan. Tetapi, jika awak medianya nakal, keributan yang ditimbulkan pun bisa merepotkan dunia.

Eksekutif Direktur LPDS Priyambodo RH dalam Lokakarya Waryawan Meliput Perubahan Iklim.
Eksekutif Direktur LPDS Priyambodo RH dalam Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim.

‘’Jika seorang dandim atau danrem melakukan satu kesalahan, kesalahannya terukur. Tetapi jika wartawan melakukan kesalahan, seluruh dunia bisa repot,’’ kata Eksekurtif Direktur Lembaga Pers Dr Soetomo (LPDS), Priyambodo RH mengingatkan 30 wartawan peserta lokakarya di Golden Palace Hotel Mataram, (24-25 November).
Sejalan pesatnya perkembangan teknologi dan dinamika informasi, wartawan juga dituntut terus meng-update kemampuan jurnalistiknya. Lebih-lebih, saat ini perkembangan dunia informatika lebih agresif dari yang diperkirakan.
Untuk itu, para pengajar LPDS yang selalu mendapat kepercayaan dari Kedutaan Kerajaan Norwegia ini terus berupaya meningkatkan kemampuan menulis para awak media di Indonesia. Jika sebelumnya, LPDS banyak memberikan pelatihan kode etik jurnalistik sampai membuat soal-soal uji kompetensi wartawan, kali ini LPDS menggelar lokakarya wartawan meliput perubahan iklim.

Penyerahan sertifikat peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim.
Penyerahan sertifikat peserta Lokakarya Wartawan Meliput Perubahan Iklim.

Selain menghadirkan wartawan senior Kantor Berita Indonesia, Antara, Priyambodo, lokakarya dua hari ini juga mendatangkan dua pengajar senior. Yakni, pengajar LPDS Warief Djajanto Basorie dan mantan wartawan yang kini Dosen Hubungan Internasional Universitas Paramadina, Ica Wulansari. Mereka hadir untuk memberikan pencerahan terkait teknik menulis feuture interpretatif perubahan iklim berdasarkan pemateri.

Pematerinya, peraih Kalpataru asal Narmada, TGH Hasanain Juaini, mantan Kadis Kehutanan NTB, Andi Pramaria, dan Ketua WALHI Deddy Ratih. Pesertanya, sebagian besar wartawan muda yang biasa ngepos di kantor Pemprov NTB dan pos hukum – kriminal. ‘’Jika setiap orang menanam 127 pohon, kerusakan hutan di NTB teratasi,’’ ungkap Hasanain setelah menghitung luasnya kerusakan hutan dan jumlah penduduk NTB.

Strategisnya peran wartawan dan media masa dalam mitigasi perubahan iklim menjadi salah satu alasan kegiatan ini digelar. Baik dalam kampanye pelestarian lingkungan maupun dalam aksi nyata menanggulangi dampak kerusakan lingkungan itu sendiri.
Mitigasi perubahan iklim global dan kerusakan lingkungan di NTB menjadi salah satu topik utama. Menurut Hasanain, kerusakan hutan di NTB, mudah ditangani. Upaya itu pun akunya, sudah dimulai bersama ribuan santri-santri Nurul Haramain.
Dari tiga pemateri, Hasanain cukup banyak mendapat perhatian wartawan. Namun, tak sedikit dari tulisan feature interpretatif perubahan iklim yang diangkat peserta adalah terkait kerusakan lingkungan di Sembalun (Lombok Timur), Semokan (Lombok Utara), sampai program setiap pengantin tanam pohon di Desa Dasan Tapen, Lombok Barat. (*)

Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top