You are here
Home > ADVENTURE > Kesan dan Obrolan Para Jenderal di Gili Trawangan

Kesan dan Obrolan Para Jenderal di Gili Trawangan

Kesan angker adalah yang terlintas pertama kali di benak saya ketika menyambut rombongan jenderal peserta Pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) 2016 di Lombok International Airport, Senin (27/) lalu. Namun, ketika melihat para jenderal ini bersosialisasi dengan warga Dusun Tradisional Sade, Lombok Tengah, kesan angker itu hilang.

Rombongan Lemhanas 2016 ketika berkunjung ke Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara, NTB.
Rombongan Lemhanas 2016 ketika berkunjung ke Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara, NTB.

Ketika Kadus Sade tidak bisa menjelaskan keunikan kampungnya dalam bahasa Inggris. Kolonel AL Anuar bin Hj alias RMN (Tentara Laut Diraja Malaysia) langsung menginggriskan penjelasan Kadus Sade. Anuar begitu bijak menerjemahkan setiap kata demi kata.

Pada hari kedua, kesan saya mulai berbeda. Selain terlihat bijak, para jenderal ini juga terkesan humble.

Setelah melihat kampung tradisional Sade di Lombok Tengah, rombongan jenderal dari tujuh negara ini melihat budaya masyarakat gili (pulau kecil) di tengah gempuran budaya barat. Untuk pengenalan budaya jenis ini, rombongan jenderal Lemhanas 2016 mengunjungi Desa Gili Indah, Pemenang, Lombok Utara.

Di Pelabuhan Teluk Nara, Pemenang, rombongan disambut Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Lombok Utara Muhadi SH bersama jajarannya. Tadinya, Gili Meno menjadi tujuan utama pengenalan budaya lokal program Lemhanas 2016 ini. Karena berbagai pertimbangan teknis, pengenalan budaya ini dialihkan ke Gili Trawangan.

Kolonel AU Choosak Kasatewit (Thailand) dan Kolonel AD Sok Nousan (Kamboja) berselfi sebelum berangkat ke Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.
Kolonel AU Choosak Kasatewit (Thailand) dan Kolonel AD Sok Nousan (Kamboja) berselfi sebelum berangkat ke Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.

Sepanjang perjalanan, jenderal dari Letkol AD Kone Moriba (Mabes TNM Republik Mali) dan Malakai Raceva (Officer Commanding Fiji) kerap menggunakan bahasa Indonesia. Selain itu,  hampir semua peserta PPRA LIV Lemhanas 2016 ini juga cukup menguasai bahasa Indonesia.

Bahkan, Kolonel AU Choosak Kasatewit (Deputy Director of International Thiland) ini cukup mahir berdiskusi tentang pariwisata Lombok. ‘’Saya suka Indonesia. Saya akan kembali lagi bersama keluarga ke tempat ini. Pariwisata Lombok bagus,’’ kata Choosak sambil menanyakan teknis perjalanan dan kisaran biaya transportasi laut sampai harga kamar hotel di tiga gili.

Hampir di setiap obrolan, Kolonel AU Thailand ini selalu tersenyum. ‘’Air laut disini masih bersih ya,’’ ungkapnya di atas speed boat menuju Gili Trawangan.

Pose bareng, rombongan Lemhanas 2016.
Pose bareng, rombongan Lemhanas 2016.

Di dusun internasional ini, mungkin keberadaan plang nama (letter board) Gili Trawangan memang dibutuhkan. Buktinya, ketika para jenderal peserta Lemhanas ini tiba di Gili Trawangan dan melihat plang nama tempat itu, mereka langsung pose bareng.  Maksudnya, sebagai foto laporan.

Hanya sekitar 10 menit di darat, rombongan jenderal ini langsung diarahkan naik perahu glass botom. Tujuannya, melihat terumbu karang di sekitar perairan Meno Wall. Pujian atau kesan baik tidak banyak terdengar ketika para jenderal ini menyaksikan kondisi terumbu karang kawasan Gili Meno. Padahal, pemandangan bawah laut Gili Meno disebut-sebut paling baik di tiga gili itu.

Sesekali terdengar suara jenderal bintang satu asal Yordania menyebut nama Allah sambil melihat pemandangan bawah laut. ‘’Subhanallah,’’ ungkap Brigjen AD Fayiz Abdelrahman Moh’d Alferokh (Staf Kesatuan Pertahanan Yordania) setelah mengambil gambar terumbu karang.

Ketika yang lain melihat pemandangan bawah laut, Kolonel Anuar lebih tertarik mengamati aktifitas di permukaan laut Gili Meno.
Ketika yang lain melihat pemandangan bawah laut, Kolonel Anuar lebih tertarik mengamati aktifitas di permukaan laut Gili Meno.

‘’Salah satu jenis terumbu karang yang kualitasnya baik membutuhkan waktu 100 tahun untuk tumbuh satu sentimeter,’’ kata Anuar, Jenderal Diraja Malaysia berkomentar sambil mengamati kondisi karang-karang mati di kawasan itu.

Setelah mengelilingi tiga spot underwater, rombongan kembali ke Gili Trawangan. ‘’Kalau bulan puasa kita berlibur ke Lombok, bisa menjadi musibah,’’ timpal pimpinan rombongan, Marsda TNI Dedy Nita Komara SE (Tenaga Ahli Pengajar Bidang Ideologi Lemhannas RI) menirukan ungkapan jenderal Yordania sambil tertawa lebar.

Anehnya, di sela-sela mengamati terumbu karang Gili Meno, Brigjen Fayiz justeru menyempaikan niatnya beribur ke Malaysia kepada Kolonel Anuar. ‘’Saya butuh informasi daerah-daerah wisata yang baik di Malaysia,’’ kata Fayiz dalam bahasa Indonesia.

Mengamati geliat wisata di Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.
Mengamati geliat wisata di Gili Trawangan, Lombok Utara, NTB.

Melihat kemampuan berbahasa Indonesia para jenderal yang cukup baik itu, salah seorang pemandu wisata lokal menanyakan hal itu kepada Anuar. ‘’Kami sudah empat bulan di Indonesia.  Kami sudah banyak belajar dan mendengar tentang Indonesia,’’ kata Anuar.

Meski singkat, perjalanan melihat terumbu karang yang tidak sepenuhnya memuaskan itu menyisakan beberapa kesan baik. Salah satunya, ketika mereka melihat seekor penyu di kawasan bawah laut Gili Meno. ‘’Insya Allah saya juga akan kembali bersama keluarga ke Lombok,’’ kata istri jenderal bintang dua Dedy Nita.

Tadinya, rombongan akan bergerak ke tempat penangkaran penyu. Sayangnya, saat itu tempat penangkaran penyu di depan Dino Hotel itu sedang tidak ada siswanya.

Tadinya, mereka juga mau keliling pulau. Namun, aturan di Gili Trawangan melarang cidomo keliling pulau di bawah pukul 01.00 WITA.  Alhasil, rombongan jenderal ini tidak sempat duduk atau pun minum di Gili Trawangan. Mereka langsung balik kanan dan kembali ke Lombok.

Sempat saya menawarkan untuk jalan-jalan ke arah Hotel Vila Ombak atau sunset point. ‘’Kalau tidak ada apa-apa disana, untuk apa kita kesana,’’ kata Kolonel Inf Sugeng Santoso SIP (Kasubdit Giattama Ditopsdik Lemhanas). (*)

Apink Alkaff

 

 

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top