You are here
Home > ADVENTURE > PARIWISATA > Ketika Maulid Adat Bayan Mulai Terjual – UTARAKITA

Ketika Maulid Adat Bayan Mulai Terjual – UTARAKITA

Ketika maulid adat mulai terjual, aturan adat pun mulai dipertanyakan. Ketika budaya mulai dieksploitasi, banyak persepsi lahir mewakili logika. Ada yang berasumsi, mempertahankan adat merupakan amanat suci. Ada pula yang menilai, mempertahankan budaya kuno adalah satu kemunduran.

Para pemburu foto mengabadikan prosesi menumbuk padi maulud adat Bayan, Lombok Utara. (photo: Apink Alkaff)
Para pemburu foto mengabadikan prosesi menumbuk padi maulud adat Bayan, Lombok Utara. (photo: Apink Alkaff)

Apink Alkaff – BAYAN

Banyak persepsi dan asumsi yang muncul ketika adat mulai membudaya. Banyak juga yang melihat upaya mempertahankan adat tidak lebih dari mempertahankan eksistensi masyarakat adat itu sendiri.

Kehilangan eksistensi tentu menjadi masalah serius bagi masyarakat adat. Masalah serius juga bagi para politisi yang senang menunggangi kearifan lokal sebagai komoditi politik.

Yang cukup menarik perhatian adalah ketika ratusan mahasiswa Universitas Mataram (Unram) datang mengikuti dan berupaya memahami makna maulid adat ala masyakat adat Bayan, Lombok Utara, belum lama ini. Banyak pertanyaan serius yang terlontar dari setiap kepala mahasiswa Unram itu. Menariknya, tidak ada keseragaman jawaban yang mereka terima.

Ratusan mahasiswa Unram yang memenuhi arena maulid adat Bayan.
Ratusan mahasiswa Unram yang memenuhi arena maulid adat Bayan.

Maklum, tidak ada penjelasan yang telah disepakati masyarakat adat Bayan terkait maulid adat tersebut. Lebih-lebih ketika sudah berbicara tentang persoalan syariat yang mulai berbenturan dengan adat dan budaya. Ketika aturan yang dibuat manusia berseberangan dengan aturan Tuhan. Hal inilah yag membuat ritual maulid adat masyarakat Bayan tahun ini terasa lebih berwarna.

Selain itu, panitia maulid adat pun mulai mamasang spanduk bertuliskan beberapa aturan yang harus ditaati pengunjung ketika mengikuti ritual adat ini. Dan spanduk amaran itu ditancapkan dengan paku-paku besar di batang pohon bunut tua yang ada di depan Kampu Adat Karang Bajo, Bayan.

Umumnya mahasiswi Unram yang datang ini mengenakan hijab. Sementara, aturan mengenakan hijab saat masuk kampu belum disepakati.

Dari ratusan mahasiswi berhijab tadi, ada dua atau tiga mahasiswi yang rela membuka hijab dan mengganti almamaternya dengan balutan kain tenun. Itu dilakukan semata agar mereka bisa masuk kampu dan melihat dari dekat prosesi ritual maulid adat tersebut. ‘’Mahasiswa-mahasiswa inilah yang harus menghormati adat dan budaya masyarakat di sini,’’ kata salah seorang photografer senior asal Mataram.

Salah satu mahasiswa yang terpaksa membuka hijab untuk bisa masuk kampu Karang Bajo, Bayan.
Salah satu mahasiswa yang terpaksa membuka hijab untuk bisa masuk kampu Karang Bajo, Bayan.

‘’Sebaiknya, mahasiswi yang berhijab ini diperbolehkan masuk kampu asalkan masuknya limaorang-lima orang. Biar di dalam kampu tidak sesak,’’ timpal Kuadru, photografer senior asal Mataram lainnya.

Selain Kuadru, maulid adat tahun ini juga dipenuhi banyak pemburu foto. Mereka tidak saja datang dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Bagi sebagian orang, kehadiran para pemburu foto ini juga dilihat sebagai salah satu bentuk upaya mengeksploitasi adat Bayan. Seperti halnya masyarakat adat setempat yang mulai menyewakan tenun-tenun ikat dan menarik retribusi masuk bagi setiap pengunjung.

Menariknya juga, prosesi maulid adat tahun ini juga dimeriahkan hadirnya Wakil Bupati Lombok Utara terpilih Syarifudin. Dengan senyum renyah, Syarif yang mantan wartawan NTB Post ini mengikuti setiap fase ritual masyarakat adat Bayan ini.

Bahkan ia tampak sudah menyiapkan isi salaman tempel kepada Inan Meniq sebelum keningnya di sembek. Tentunya, sebelum niat dan nazar terucap.

Wakil Bupati KLU terpilih Syarifudin saat antri sebelum disembek. (photo: Apink Alkaff)
Wakil Bupati KLU terpilih Syarifudin saat antri sebelum disembek. (photo: Apink Alkaff)

Tidak itu saja, barisan pengunjung maulid adat tahun ini juga diramaikan hadirnya barisan para pengurus Badan Promosi Pariwisata Daerah Lombok Utara. Seperti halnya para pengunjung lain, para promotor pariwisata ini tampak antusias berselfi ria dan mengabadikan setiap momen yang tentunya akan di promosikan ke dunia.

Apapun itu, sembek Bayan akan selalu membuat pengunjung kangen untuk kembali. Kerasnya brem dan ramahnya perawan Bayan adalah alasan lain untuk merindu. Besembek lagi dan bernazar lagi. (*)

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top