You are here
Home > EKONOMI BISNIS > Lama Tak Terdengar, Program Bekrap Muncul Juga

Lama Tak Terdengar, Program Bekrap Muncul Juga

Mataram – Sejak dibentuk, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) ini memang jarang terdengar kiprahnya. Dan kini, programnya ini mulai terasa di Nusa Tenggara Barat.

Setelah Medan, giliran kota Mataram yang kebagian menjadi tuan rumah sosialisasi kompetisi dan konferensi FoodStartup Indonesia. Roadshow Bekraf kali ini membidik para pelaku bisnis dan penyedia jasa atau produk kuliner. Dengan catatan, pelakunya sudah menggeluti bisnis itu selama setahun sampai lima tahun.

Roadshow yang umumnya dihadiri kalangan pebisnis muda kuliner ini digelar di Aston Inn Hotel Mataram Senin, 17 April 2017.  ‘’FoodStartup Indonesia adalah acara yang diselenggarakan Bekraf untuk mendukung ekosistem subsektor kuliner di Indonesia,’’ kata Sugeng Santoso, Direktur Akses Non Perbankan, Badan Ekonomi Kreatif.

Sugeng Santoso, Direktur Akses Non Perbankan, Badan Ekonomi Kreatif, di sela sosialisasi FoodStartUp di Hotel Hilton Mataram, NTB.

Dia menjelaskan, sosialisasi dan kompetisi FoodStartup ini diperungtukkan bagi pelaku bisnis yang mempunyai ide kreatif, inovatif, bisnis model, serta pemasaran, rekam memiliki jejak transaksi. Juga memiliki keunggulan dan mempunya tim tangguh potensial.

Yang nantinya, akan dikembangkan dalam skalabilitas dengan pertumbuhan yang tinggi serta menarik pemilik modal. “Kami berharap, kegiatan ini mempu mengembangkan bisnis kuliner di Indonesia, memaksimalkan potensis foodstartup, membentuk ekosistem foodstartup, dan membuka akses permodalan pemerintah serta swasta,’’ terangnya.

Selain sosialisasi kompetisi dan konferensi FoodStartup Indonesia di Mataram ini, Bekraf juga mmenyosialisasikan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan program kerja Deputi Fasilitai HKI dan Regulasi Bekraf dalam pengembangan subsektor kuliner.  Sosialisasi HKI ini disampaikan Robinson Sinaga selaku Direktur Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual, Deputi Fasilitasi HKI dan Regulasi Bekraf.

‘’Proses Kurasi Bekraf melaksanakan kurasi dan memilih 100 startup untuk mengikuti demoday di Bali (22-24/5) dan di Bandung (17-19/7). Sebanyak 50 startup yang melaksanakan demoday di Bali akan diumumkan pada 10 Mei 2017. Sedangkan 50 startup yang melaksanakan demoday di Bandung dan diumumkan pada 7 Juli 2017 melalui portal www.foodstartupindonesia.com.
Nantinya, dalam demoday para startup subsektor kuliner akan mengikuti mentorship dengan mentor dari berbagai keahlian sesuai kriteria melalui koordinasi Bekraf.

Setiap foodstartup sambung Sugeng, diberikan waktu 15 menit untuk picthing dan memaparkan pitch deck di hadapan mentor. Selanjutnya, 25 foodstartup akan dipilih dari 50 foodstartup untuk melaksanakan picthing di depan umum selama lima menit. Dan para juri akan memilih 10
foodstartup terbaik untuk masuk Final Pitching Day.

‘’Pitch deck adalah materi presentasi yang berisi profil produk dan ide kreatif produk serta latar belakang produk. Juga terkait target market produk, proses produksi, timeline progres produk, model bisnis, kompetitor, strategi pengembangan produk, skalabilitas, profil tim dan
investasi yang diperlukan dalam meningkatkan skalabilitas dan strategi selanjutnya.

“Ke-30 foodstartup terbaik dari demoday Yogyakarta (2016) Bali, dan Bandung (2017) akan tampil di Final Pitching Day di Jakarta. Semua finalis demoday ini berhak mendapat fasilitasi HKI dan akselerasi program dari Bekraf,” beber Sugeng.

Seperti diketahui, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) adalah lembaga pemerintah nonkementerian yang bertanggung jawab di bidang ekonomi kreatif. Saat ini, Kepala Bekraf dijabat Triawan Munaf.

Bekraf yang merupakan barang baru di negeri ini mempunyai tugas membantu Presiden RI dalam merumuskan, menetapkan, mengoordinasikan, dan sinkronisasi kebijakan ekonomi kreatif di bidang aplikasi dan game developer. Termasuk arsitektur, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, film animasi dan video, fotografi, kriya, kuliner, musik, penerbitan, periklanan,
seni pertunjukan, seni rupa, dan televisi dan radio. (*)

Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top