You are here
Home > INTERNASIONAL > Maleman 21, Budaya Kami Menyambut Malam Seribu Bulan

Maleman 21, Budaya Kami Menyambut Malam Seribu Bulan

Kita meyakini bahwa al-Quran turun ketika lailatul qadar. Terdapat banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Diantaranya firman Allah di surat al-Qadar yang artinya, Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada lailatul qadar. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. (QS. al-Qadar: 1 – 3).

Maleman 21, merayakan turunnya Alquran di Desa Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB.
Maleman 21, merayakan turunnya Alquran di Desa Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB.

Sebelumnya diturunkan, al-Quran berada di Lauhul Mahfudz. Kemudian Allah turunkan melalui Jibril. Kita juga meyakini bahwa al-Quran diturunkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara berangsur-angsur. Sebagaimana realita sejarah yang kita baca. Disamping itu, ada ayat yang menegaskan, Al Quran itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.” (QS. al-Isra: 106)

Selanjutnya, ulama berbeda pendapat tentang bagaimana cara Allah menurunkan al-Quran di malam qadar.As-Suyuthi dalam kitabnya al-Itqan fi Ulum al-Quran menyebutkan ada tiga pendapat, Pertama, al-Quran turun secara utuh keseluruhan ke langit dunia pada saat lailatul qadar. Selanjutnya Allah turunkan secara berangsur-angsur selama masa kenabian.

Cara sederhana kami di Lombok menyambut Nuzulul Quran
Cara sederhana kami di Lombok menyambut Nuzulul Quran

Kata As-Suyuthi, ini adalah pendapat yang paling shahih dan paling terkenal, Kedua, al-Quran turun setiap lailatul qadar selama masa kenabian. Kemudian turun berangsur-angsur kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama setahun itu.

Kami di Desa Mambalan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat mempunyai budaya sederhana menyambut datangnya Malam Seribu Bulan ini. Malam dimana turunnya cahaya penerang bagi umat manusia ini kami rayakan dengan menyalakan dila jojor, lampu tradisional khas Lombok yang terbuat dari minyak buah camplung.

Lampu penerang bertangkai bilah bambu dan dibungkus daun pisang kering ini kami nyalakan di setiap sudut rumah. Di bawah pohon dan di pintu-pintu rumah. Dengan harapan, keindahan Malam Seribu Bulan itu singgah di rumah kami. Kami juga berharap dan berdoa, roh para pendahulu, keluarga, kerabat, suhada, dan para aulia bisa singgah di rumah kami.

Maleman 21: Budaya masyarakat muslim Lombok merayaan kebesaran malam Seribu Bulan.
Maleman 21: Budaya masyarakat muslim Lombok merayaan kebesaran malam Seribu Bulan.

Warga Mambalan, Kecamatan Gunungsari merayakan maleman 21 yang pastinya bertepatan dengan malam ke-21 bulan suci ramadhan ini sejak ratusan tahun lalu. Pada malam ini, seluruh umat muslim berkumpul di masjid, langgar, dan musalla-musalla untuk melantunkan, mendengar, dan menelaah kalimat-kalimat suci. Mulai setelah berbuka sampai waktu syahur tiba.

Malam ini juga, umat Islam lebih banyak membaca, mendengar, dan memahami bait-bait ajaran suci yang langsung disampaikan Rab-nya. Malam ini, umat Islam tengah berhagia dan mendambakan berkah Malam Seribu Bulan singgah di rumah dan hati masing-masing. Malam ini, adalah Malam pengharapan dan diijabahnya doa.

Dan bukan hanya di malam ini, umat muslim lebih banyak membaca, berdoa, dan mendengar kalam-kalam langit. Di malam seterusnya setelah maleman 21 ini, umat Islam seluruh dunia pun akan tetap memanjatkan doa dan berharap mendapatkan kenikmatan beribadah di malam lailatul qadar.

Peringatan malam turunnya lailatul qadar dengan cara sederhana seperti ini juga banyak dilakukan masyarakat muslim di kampung maupun perkotaan di Lombok. Dan peringatan serupa dilakukan sampai akhir ramadhan. Dengan harapan yang sama: Mendapat ampunan dan menikmatan indahnya beribadah di malam Seribu Bulan. (*)

Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top