You are here
Home > ADVENTURE > Budaya > Mandat Bunga Api untuk Sabuk Gili

Mandat Bunga Api untuk Sabuk Gili

 Sudut pandang menjaga gili dan menumbuhkan ruang wisata baru

Entahlah, kitapun tak lalu paham bagaimana Tuhan meletakkan tiap inci keindahan di tanah yang kita jejak ini. Sejak Adam melakoni kisahnya sebagai lelaki dan pejalan kaki, mencari tulang rusuk di belukar bumi yang dimaktubkan dalam cerita-cerita suci.

Oleh: Pramoehardi – Lombok Utara 

Tanah yang dianugerahi buah tin sebagai upaya menyembunyikan makna curahan anugerah. Seperti kurma di tandus padang menemukan rasa di tanah yang dalam. Seperti sungai Nil menyiratkan cerita yang tak buram. Seperti Nainawa, tanah merah sebagai janji keteguhan Azzahra.

Begitu pula padang-padang hijau amazon, sebagai emperium keanekaragaman hayati memeram kerinduan yang dalam untuk tetap dijaga dan terjaga.

Begitu pula adanya  tanah kita, tanah yang tiap lumpurnya menjadi emas. Menghidupkan tiap kehidupan. Menumbuhkan setiap perasaan yang kadang malas untuk sekedar merawatnya. Tanah dan pasir  yang tetap seperti perawan,  di ujung karimata.

Dan ada saja  cara Tuhan meletakkan cintanya untuk kesekian kalinya. Dalam pikiran-pikiran hening, mewadahi tiap pencarian untuk sebuah resolusi bersama membangun lingkungan yang tak hanya berbatas pada pikiran menjaganya. Tetapi membuat lompatan yang lalu memberikan ruang  baru dan terbarukan.

Dari langkah sederhana dan upaya yang tidak lalu pada tahap membicangkan. Karena sudah saatnya kita melakukan dan melakukan bukan lalu membuat ruang hujjah.

Dan ada yang lalu luput dari ingatan kita. Karena hingar ceritanya, pasir putih  sejejak, yang mulai tak ayu. Padat semeraut. Bibir pantainya tergerus gelombng pasang setiap saat sampai entah.

Tanah yang berpasir seperti mata-mata putih perawan pirang. Tanah yang menghidupak nafas yang entah tak terhitung jumlahnya. Tanah yang mengisi ruang berpikir. Para traveler yang lalu mebuat mereka tak tahu jalan pulang. Dan kitapun memangilnya Gili yang selalu membuat sebagaian dari kita Gila.

Dan gilipun dengan kontur pesisir yang hampir sama dengan seluruh kawasan pesisir di Indonesia tergolong sebagai kawasan dengan potensi bencana alam. Jenis bencana yang kerap kali dihadapi oleh mereka yang tinggal di pulau kecil dan berdekatan dengan pantai dan laut adalah gelombang pasang, abrasi, atau tsunami.

Menurut data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), setidaknya telah terdata 15 bencana gelombang pasang atau abrasi dan satu bencana tsunami yang menimpa Indonesia pada 2012 lalu. Kerugian yang diakibatkan bencana tersebut tentu tidak sedikit.

Dampak dan kerugian yang diakibatkan bencana tak hanya memberikan pembelajaran perihal rencana strategis untuk mitigasi dan fasilitas pendukung lainnya. Melainkan juga kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan terkait pada pengurangan resiko bencana.

Peristiwa tsunami tahun 2004 yang menimpa Aceh dan kawasan pesisir lainnya di Asia Tenggara telah menunjukkan adanya keterkaitan antara pengurangan resiko bencana dan pelestarian lingkungan hidup (flamboyant sebagai altenatif sabuk pantai ).

Sejumlah kawasan pesisir dengan tingkat kelebatan vegetasi pesisir yang tinggi, ternyata mampu menekan laju gelombang pasang. Sehingga resiko yang diakibatkan tidak akan sebesar kawasan pesisir lain yang tak memiliki vegetasi pantai.

Salah satu bagian terpenting dari kondisi geografis Indonesia sebagai wilayah kepulauan adalah wilayah pantai dan pesisir dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Wilayah pantai dan pesisir memiliki arti yang strategis karena merupakan wilayah interaksi atau peralihan (interface) antara ekosistem darat dan laut yang memiliki sifat dan ciri unik, dan mengandung produksi biologi cukup besar serta jasa lingkungan lainnya.

Kekayaan sumber daya yang dimiliki wilayah tersebut menimbulkan daya tarik bagi berbagai pihak untuk memanfaatkan secara langsung atau untuk meregulasi pemanfaatannya. Karena, secara sektoral memberikan sumbangan yang besar dalam kegiatan ekonomi. Misalnya, pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata, dan lainnya.

Wilayah pesisir merupakan ekosistem transisi yang dipengaruhi daratan dan lautan yang mencakup beberapa ekosistem. Salah satunya, ekosistem hutan pesisir. Hutan pesisir merupakan ekosistem utama pendukung kehidupan penting di wilayah pesisir dan kelautan.

Selain mempunyai fungsi ekologis, penahan abrasi pantai, amukan badai dan gelombang tsunami, penyerap limbah, peredam asam garam, vegetasi pantai  mempunyai fungsi ekonomis yang tinggi. Seperti, sebagai penyedia kayu dan obat-obatan. Sebagai vegetasi endemik yang hidup diantara transisi daerah laut dan daratan di kawasan pesisir.

Keberadaan hutan pesisir kemudian menjadi penting sebagai sabuk hijau atau sabuk merah jika ditanami flamboyant bagi area pesisir dan sekitarnya. Sabuk pantai memiliki banyak fungsi fisik, ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan bagi masyarakat dan kawasan pesisir.

Ada banyak keuntungan yang didapatkan dari proses mitigasi yang berbasis pada alam. Mitigasi berbasis pohon untuk bencana gelombang pasang dan tsunami misalnya, tak hanya akan memberikan manfaat fisik dan lingkungan. Tetapi juga memberikan manfaat lain yang bisa diberdayakan masyarakat pesisir dan pihak lainnya.

Karena hutan pesisir  merupakan daerah bagi berbagai satwa untuk berkembang biak. Maka, kelestarian akan berdampak langsung bagi hadirnya berbagai lebah madu, aneka burung, dan fauna lainnya yang dapat dimanfaatkan sebagai mata pencaharian penduduk dan pengembangan eco tourism.

Fakta tersebut memberi penjelasan jika kawasan pesisir kita sangat rentan akan bencana alam jika Ruang Hijau pesisir tidak terjaga dan tersiapkan atau dengan kata lain kawasan pesisir kita bergatung pada kawasasan pariwisata berbasis ketanguhan lingkungan :

  1. Revilitasi Ruang Pesisir dengan Konsep Red Belt multi effeck ( Flamboyan )
  2. Menyisipkan Ruang Tebuka Hijau seluas – luasnya diruang pinggiran pantai
  3. Ruang terbuka hijau

Penanaman pohon flamboyant adalah upaya preventif dan konstruktif dalam menyiapkan ruang terbuka hijau tepian pantai dengan kajian yang telah diputuskan melalui observasi panjang dengan hajatan :

  1. Hal terpenting dalam hajat penanaman pohon flamboyant di daerah pesisir adalah tertahannya aliran air yang mengalir dengan deras dari top area (daerah ketinggian) ke daerah pantai (bottom area) yang kemudian dapat berdampak baik pada:
  2. Terkuranginya pendangkalan laut
  3. Terjaganya ekosytem laut
  4. Pohon Flamboyant adalah jenis tanaman yang mampu menetralisir tingkat kandungan Natrium Clorida (Na Cl) pada air tepi laut untuk kebertahanan hidup pohon flamboyant dan meredam tingkat asam garam yang terbawa ke daratan.
  5. Estetika lingkungan, pohon flamboyant adalah tanaman keras dengan daun yang rindang dan bunga yang indah. Tumbuh kembangnya Flamboyant dihajatkan akan mampu memperindah ruang dan pinggiran pantai yang kemudian akan menjadi destinasi wisata baru

Dapat dibayangkan jika pepohonan adalah makhluk Tuhan yang memiliki fungsi stabilisator yang sangat penting bagi alam dan keberlangsungan hidup manusia. Marginalnya kwantitas pepohonan tidak saja berdampak pada rentan terjadinya bencana tapi dapat mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat.

Karena itu sudah saatnya semua masyarakat, pemerintah dan steak holder daerah bersepakat jika pantai dan ruang terbuka hijau (RTH) harus mulai dipikirkan melalui upaya konstruktif dan mengimplementasikannya:

  1. Memfasilitasi kegiatan–kegiatan menumbuhkan dan Kegiatan Konstruktif tentang tersedianya RTH di areal pesisir.
  2. Mengembalikan hak–hak roi pantai sebagai penyangga abrasi.
  3. Mempergencar sosialisasi dan edukasi terkait pentinggya sabuk pantai melalui lembaga–lembaga lingkungan dan instansi terkait.

Mandat Bungga Api untuk Sabuk Pantai

  • Bungga Api untuk pesisir tangguh, sebagai aplikasi menjaga pantai dan membangun ruang baru pariwisata berbasis lingkungan
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, sebagai aplikasi membangun mental kesadaran pentingnya menanam dan menjaga pohon sebagai kesadaran yang utuh
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, sebagai generator, menghidupkan inisiasi keterlibatan masyarakat untuk membangun peraturan penanaman pohon berbasis kearifan lokal
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, sebagai media penumbuhan mental berkesadaran,  pentingnya nilai penanaman, untuk menjaga, hutan, elevasi ruang kota dan laut.
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, upaya menciptakan ketangguhan masayarakat pesisir dengan membangun ruang pariwisata baru dengan program yang berkait.
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, sebagai  cara memberikan ruang kreatif dalam upaya, penangguhan abrasi,  bina lingkungan, bina wisata, bina kebencanaan, dan bina usaha.
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, membuat ruang rumah habitat burung, dan habitat lainnya.
  • Bungga api untuk pesisir tangguh, ruang baru taman pantai, berbasis estika dan blocking.

Sepanjang apapun uraian tentang pantai, RTH ataupun penyelamatan lingkungan selama niat kita hanya sampai pada tataran konseptual tanpa langkah–langkah konstruktif dalam menjaga dan merevitalisasi hutan dan tersiapkannya RTH, hanya akan menjadi kesia-siaan. Dan bersiap siaplah dengan datangnya bencana dari murkanya alam karena kita telah menabur benih kerusakan bagi hutan.

Semoga uaraian ini bisa menjadi refrensi berpikir siapapun tentang pentingnya pohon bagi keberlangsungan hidup manusia dan mahluk lainnya. (*)

Salam Lestari

D. Pramoehardi adalah Ketua Pawang Rinjani

Editor: Apink Alkaff

 

 

UTARAKITA
UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda
Top