You are here
Home > INTERNASIONAL > Mengenal Misuari, Tokoh Pembebas 14 WNI dari Abu Sayyaf

Mengenal Misuari, Tokoh Pembebas 14 WNI dari Abu Sayyaf

Bebasnya 10 warga negara Indonesia (WNI) yang disandera Abu Sayyaf beberapa pekan lalu dan empat WNI lain pada Rabu lalu tak lepas dari peran penting, Kepala Moro National Liberation Front (MNLF), Nur Misuari.

Kivlan Zein, tokoh di balik bebasnya WNI sandera Abu Sayyaf.
Kivlan Zein, tokoh di balik bebasnya WNI sandera Abu Sayyaf.

Misuari, menurut pihak MNLF, turun tangan langsung melakukan negosiasi dengan kelompok Abu Sayyaf. Negosiasi yang dilakukan tanpa terdeteksi militer Filipina itu disebut-sebut bagian dari operasi senyap yang melibatkan mantan jenderal TNI Angkatan Darat Indonesia, Kivlan Zein.

Sosok Misuari bukan negosiator dan pejuang MNLF biasa. Dari data latar belakangnya, Misuari merupakan keturunan panglima dari Kesultanan Sulu. Dia pernah menjadi dosen di sebuah universitas ternama di Filipina sebelum terjun ke politik melalui MNLF.

Nur Misuari lahir di Tapul, 3 Maret 1939. Dia anak keempat dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Saliddain Misuari, bekerja sebagai nelayan, dan ibunya Dindanghail Pining. Nur Misuari keturunan langsung dari Panglima Mahabasser Elidji, seorang prajurit Tausug dan perwakilan dari Kesultanan Sulu. Yang merupakan tokoh yang membantu pasukan Brunei di bawah kepemimpinan Sultan Muhyiddin selama perang sipil pecah di Kalimantan bagian utara.

Dr Nur Misuari
Dr Nur Misuari

Dosen dan Beristri Enam

Ayah Misuari pindah dari Tapul ke Jolo, Sulu, saat Misuari masih muda. Misuari sekolah di SD Jolo 1949-1955 dan melanjutkan ke jenjang lebih tinggi hingga tahun 1958. Keluarganya mengalami kesulitan keuangan dan tidak bisa membiayai Misuari ke perguruan tinggi. Beruntung, Misuari dibantu gurunya mendapatkan beasiswa yang memungkinkan dia untuk belajar di Universitas Filipina di Manila.

Misuari awalnya ingin menekuni bidang medis. Tapi, dia pindah haluan dan menuntut ilmu politik dan hukum saat semester kedua. Meskipun dia tahu ayahnya “membenci” profesi pengacara.

Misuari terkenal aktif dalam perdebatan politik di kampus dan meraih gelar sarjana di bidang Ilmu Politik dari Universitas Filipina pada 1962. Dia kemudian melanjutkan studinya untuk meraih gelar master bidang ilmu politik pada 1964 di Asian Center Universitas Filipina.

Pada 1964, Misuari mendirikan kelompok mahasiswa radikal yang dikenal sebagai Bagong Asya (New Asia). Bersama dengan Jose Maria Sison, dia juga mendirikan Kabataan Makabayan (Youth Patriotic).

Salah satu kontroversi Misuari adalah dia yang disebut-sebut memiliki enam istri hingga 2015. Istri pertamanya adalah Desdemona Tan, meninggal karena sakit di Islamabad, Pakistan. Kakak dari Desdemona, Eleonora Tan kemudian menjadi istri keduanya. Istri ketiga dan keempat, Tarhata Ibrahim dan Maimona Palalisan. Sherry Rahim menjadi istri kelima. Identitas istri keenam tidak diketahui.

Melalui mentornya, Dr. Cesar Adib Majul, Misuari menjadi dosen di Universitas Filipina di bidang ilmu politik pada Juli 1966. Dia pensiun dari kampus pada 15 November 1968.

Dr Nur Misuari, tokoh muslim Moro, Filipina
Dr Nur Misuari, tokoh muslim Moro, Filipina

Gerakan Mindanao Merdeka

Pada 1960, Misuari membantu mendirikan gerakan Mindanao Merdeka. Tujuannya, mendirikan negara merdeka di Filipina Selatan. Gerakan Kemerdekaan Mindanao inilah yang melahirkan Moro National Liberation Front (MNLF) yang berusaha melakukan reformasi politik di tubuh pemerintah Filipina.

Cita-cita reformasi belum berhasil, MNLF di bawah kepemimpinan Misuari terlibat konflik militer melawan Pemerintah Filipina dan pendukungnya antara 1972-1976.

Perlawanan militer kepada pemerintah mantan Presiden Ferdinand Marcos tidak menghasilkan otonomi untuk rakyat Moro. Misuari lantas berangkat ke Arab Saudi dan hidup di pengasingan. Dia kembali ke Filipina setelah Marcos digulingkan dalam revolusi 1986.

Misuari membenarkan perjuangan bersenjata MNLF setelah Perjanjian Tripoli yang ikut ditandatangani Marcos dilanggar. Misuari dan MNFL-nya kembali menandatangani perjanjian damai dengan pemerintah Filipina di bawah Presiden Fidel Ramos pada 1990-an. Perjanjian ini menghasilkan daerah otonom untuk Moro dengan Misuari menjadi gubernurnya.

Nur Misuari, Ketua MNLF
Nur Misuari, Kepala MNLF

Ditangkap, Dituduh Teroris

Setelah menjabat gubernur pada 1996, Misuari memimpin pemberontakan terhadap pemerintah Filipina pada November 2001, namun gagal. Dia kembali melarikan diri ke Sabah, Malaysia. Selama di Sabah, istri ketiganya Tarhatta bersama tiga anaknya diizinkan Pemerintah Malaysia untuk mengunjunginya.

Pemimpin Moro Islam Liberation Front (MILF) kala itu menyarankan Pemerintah Malaysia mengirim Misuari ke Arab Saudi atau Libya untuk menghindari “penganiayaan politik” dari Pemerintah Filipina. Namun, Malaysia pada saat itu dipimpin Perdana Menteri Mahathir Mohamad menolak.

”Kita tidak bisa menghiburnya dengan suaka, dimana Misuari tidak menggunakan kekuatannya dengan benar meskipun kami memberikan dukungan baginya di masa lalu untuk tawaran tentang otonomi yang menciptakan Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM),” kata Mahathir kala itu.

Nur Misuari, Kepala Moro National Liberation Front (MNLF)
Nur Misuari, Kepala Moro National Liberation Front (MNLF)

Misuari kemudian dideportasi ke dan jabatannya di Mindanao dilucuti oleh Pemerintah Presiden Gloria Macapagal-Arroyo, 2001. Tragisnya, Misuari ditangkap pada 2007 atas tuduhan terorisme.

Pada 20 Desember 2007, jaminan 100 ribu peso untuk Misuari dan tujuh terdakwa lainnya ditolak dan dia menjadi tahanan rumah di Manila. Pada 25 April 2008, jaminan untuk Misuari diterima.

Menurut sumber di Moro, Misuari adalah “pemimpin karismatik” yang memegang kekuasaan besar atas masyarakat adat di Mindanao. Namun dia kalah mendapatkan dukungan ini karena salah urus dan maraknya pejabat yang korupsi selama Misuari menjabat sebagai gubernur untuk ARMM.

Sumber: Wikipedia dan berbagai sumber lainnya.

(mas/sindonews.com)

UTARAKITA
UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda
Top