You are here
Home > ADVENTURE > Menjejak Tajuk Air Jong Plangka

Menjejak Tajuk Air Jong Plangka

“....dan dari air kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Q.S. al-Anbiya : 30)

Air sesuatu yang holistik dan universal. Sebagai element dasar penciptaan mayapada. Air atau Moya merupakan bagaian fundament dari mahluk hidup yang tak susut. Selalu konstan dengan hukum alam. Namun, jika mata rantainya terputus, maka air akan hilang dari porosnya. Poros-poros sumber kehidupan itulah yang coba kami rawat dan hidupkan kembali. Karena pohon  selalu bertajuk air.

Apink Alkaff – Lombok Utara

Dalam kajian global kondisi air dunia yang disampaikan dalan World Water Forum II di Denhaag 2000 lalu, memroyeksikan bahwa pada 2025 akan terjadi krisis air di beberapa negara. Meskipun Indonesia termasuk 10 negara kaya air, namun krisis air diperkirakan juga akan terjadi akibat kesalahan pengelolaan air. Hal itu tercermin dari tingkat pencemaran air yang kian tinggi, pemakaian air yang tidak efisien, fluktuasi debit air sungai yang sangat besar, kelembagaan yang masih lemah dan peraturan perundang-undangan yang tidak memadai.

Kali ini, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Lombok Utara menggandeng
Pawang Rinjani. Organisasi lingkungan yang menjadi salah satu wadah pegiat alam bebas dan konservasi yang bermarkas si Lombok Utara. Bersama perusahaan plat merah Lombok Utara kami mencoba merawat ruang-ruang wilayah penabung sumber kehidupan. Tajuk Air 2017, 1000 gayam untuk Lombok Utara.

Jalur pipa PDAM Jong Plangka, Bentek, Gangga, KLU.

“Jika mata air sudah mengering, tanah pun enggan basah. Riak sungai tak terdengar lagi. Membasuh wajah kan mulai mahal.

Saat itulah kita sadar sesuatu yang pling berharga telah hilang,” ungkap Cike Pramuhardi, Ketua Pawang Rinjani.

“Look deep into nature and you will understand everything better, “ kata Cike mengutip ungkapan Einsten sambil berpuisi.

Akar pohon membuat sangkar alami untuk air hujan. Pergerakan akar memperbesar pori-pori tanah selama ratusan tahun. Pergerakan itu mampu menciptakan sangkar raksasa dalam perut bumi. Air hujan leluasa masuk dan tersimpan didalamnya. Sangkar raksasa yang tak terlihat, tetapi terus bekerja menyimpan dan mendistribusikan air untuk keberlangsungan kehidupan. Air yang tersimpan sebagiannya mengalir ke drainase alam menjadi air sungai. Dan sebagian lagi akan muncul menjadi mata air. Keberadaan mata air dan debit air sungai yang terjaga sepanjang tahun memperlihatkan sangkar alami ini bekerja sesuai fungsinya ( kedah alam )
Tanpa akar, tidak akan ada mata air, hilangnya akar disebabkan pohon-pohon mulai menghilang dari habitatat tetapnya, hutan sebagai wilayah penabung air. Pohonpun ditebang. Namun terkadang tereksploitasi secara berlebihan, untuk setakat pemenuhan kebutuhan alami manusia ( hasrat ). Tidak ada lagi pergerakan liar akar pohon dalam tanah. Sangkar-sangkar alami air ini mulai memadat. Kemampuan tanah menyerap air semakin mengecil. Limpasan permukaan meningkat, air hujan terbuang percuma. Alam tidak mampu memprosesnya secara alami karena penurunan fungsi hidrologisnya.

Kali Segara, Salah satu sungai dengan debit terbesar di Lombok Utara.

Degradasi hutan ditandai dengan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, lahan pertanian dan pemukiman. Perubahan fungsi ini menyebabkan perubahan keofesian aliran permukaan. Semakin besar koefesiannya, maka semakin kecil infiltrasi. Artinya, saat musim hujan, air hujan lebih banyak langsung mengalir kesungai menuju laut tanpa mampu ditahan dan disimpan lebih lama dalam sangkar alami alam. Mata air menghilang meninggalkan bekas. Keadaan ini menggambarkan kerusakan fungsi hidrologis alam.
Tajuk Air kemudian menjadi jejak awal Pawang Rinjani bersama Perusahaan Daerah Air Minum Lombok Utara mencoba mengembalikan dan merawat eksistensi alam yang layak huni.
Krisis air, banjir, longsor dan kenaikan suhu global menghadirkan penyesalan mendalam bagi sebagian manusia yang sadar akan eksistensi dirinya. TAJUKAIR upaya merawat sangkar-sangkar alami yang telah hilang. Melalui pemulian dan pengayaan.
Saatnya memantik hati dan pikiran kita samabung Cike, mengerakkan tiap pergelangan kaki tangan kita, untuk memulai sesuatu yang utuh, tanpa meninggalkan kaedah kaedah ketimuran kita, tak perlu menunggu, dan ragu. SALAM LESTARI. (*)

 

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top