You are here
Home > ADVENTURE > Nilai Lombok di Mata Nugie

Nilai Lombok di Mata Nugie

SENGGIGI – Lombok di mata Nugie punya nilai spesial. Karena di Lombok-lah penyanyi yang juga aktivis lingkungan ini menemukan cintanya, Shinta Dewi, yang belakangan menjadi pendamping hidupnya.

Tidak sampai disitu, karena Lombok-lah penyanyi yang lahirnya bernama Agustinus Gusti Nugroho ini mendapatkan anak. ‘’Disinilah (Lombok) saya bertemu istri saya. Dan karena sepulang berlibur dari Lombok juga lah, istri saya hamil,’’ ungkap Nugie saat menghibur ratusan undangan penutupan Bulan Budaya Lombok Sumbawa 2016 sekaligus pembukaan Festival Pesona Senggigi 2016 di pantai Senggigi, Jumat malam (16/9).

Nugie di panggung Festival Pesona Senggigi, Lobar, NTB.
Nugie di panggung Festival Pesona Senggigi, Lobar, NTB.

Semangat ‘’Penyair Malam’’ lulusan FISIP UI ini ketika menyampaikan kisahnya tentang Lombok juga terlihat dalam lagu-lagu bertema cinta maupun tentang lingkungan yang dibawakannya. Saking bersemangatnya, yang tadinya, Nugie hanya akan membawakan tiga lagu jadi enam lagu.

Kecintaan akan Lombok tak segan-segan disampaikan adik penyanyi kondang Katon Bagaskara ini di sela-sela aksi panggungnya. Nugie juga sempat menyampaikan betapa ia dan keluarganya  selalu jatuh cinta dengan keindahan alam Lombok. Kini kata pria kelahiran 30 Agustus 1971 ini, Lombok sudah menjadi tempat berlibur favorit keluarganya.

‘’Jujur saya sampaikan, saya sangat ingin punya rumah dan sawah di Lombok. Mari kita jaga Lombok ini. Anda orang-orang yang beruntung karena anda tinggal di surga,’’ sebut Nugie yang juga dikenal sebagai aktivis pecinta lingkungan ini.

Di hadapan Wakil Gubernur NTB, HM Amin, Bupati Lobar Fauzan Khalid, Bupati Lombok Utara H Najmul Ahyar, Kadis Budpar NTB, HL Muhamad Faozal, dan puluhan pejabat lingkup terkait, Nugie juga menyebutkan sejumlah obyek-obyek wisata favoritnya di Lombok. Nugie yakin, saat ini nama Lombok sebagai daerah tujuan wisata unggulan sudah mendunia. Ia juga yakin, Bulan Budaya Lombok Sumbawa maupun Festival Pesona Senggigi ini bakal memberikan dampak positif kepada perkembangan pariwisata Lombok.

Nugie dan penggemarnya di panggung Festival Pesona Senggigi, Lobar, NTB.
Nugie dan penggemarnya di panggung Festival Pesona Senggigi, Lobar, NTB.

Kepada utarakita.com, pecinta alam ini juga membeberkan sekelumit cintanya akan lingkungan sampai musik tradisional Lombok. Salah satu yang membuat Nugie sangat terkesan adalah Suling Dewa, Bayan ‘’Suatu saat, saya ingin bermusik bareng Suling Dewa,’’ kata Nugie yang malam itu juga tampil diiringi musik tradisional semprong (suling) khas Sesela, Lombok Barat.

Dalam karir bermusiknya, kecintaan Nugie akan lingkungan bisa dilihat dari beberapa judul album-album solonya. Seperti, Bumi, Air, dan Tanah. Selain dituangkan dalam nada, Nugie juga berperan aktif sebagai aktivis di LSM WALHI dan WWF.

Gaya hidup cinta lingkungan selalu coba dikampanyekan Nugie di setiap penampilannya di Indonesia. Dia menyerukan agar masyarakat hidup selaras dengan alam dengan menjunjung prinsip 3R, reduce (kurangi konsumsi), reuse (gunakan lagi), dan recycle (daur ulang). Selain itu, ia acap kali menyampaikan edukasi mengenai pentingnya melestarikan lingkungan pada kalangan pelajar serta mahasiswa.

Bersama Nugie usai manggung
Bersama Nugie usai manggung

Tak heran, Nugie juga mengaku sangat bangga jika ia nantinya bisa terlibat dalam Daulat Pohon 28 Oktober 2016 mendatang. Program penanaman 40 ribu flamboyan di Lombok Utara ini dinilai Nugie sangat foundamental dan kren.

”Akan menjadi satu kebanggaan jika nanti saya bisa ikut mempohonkan semangat di hari Sumpah Pemuda 2016 bersama 40 ribu bunga api untuk Rinjani. Gila banget lu, 40 ribu flamboyan bakal lu tanam di Lombok Utara. Kren, sumpah kren. Gua bisa bayangin jika 40 ribu flamboyan itu tumbuh. Lombok Utara bakal jadi Kabupaten Flamboyan,” kata Nugie. (*)

Salam Lestari

Apink Alkaff

 

 

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top