You are here
Home > ADVENTURE > Ojek Sembalun Rusak Imej Rinjani, Ratusan Hektar Kawasan TNGR Terancam Dicaplok

Ojek Sembalun Rusak Imej Rinjani, Ratusan Hektar Kawasan TNGR Terancam Dicaplok

Belum kelar persoalan sampah Rinjani, kini muncul masalah baru yang tak kalah menyebalkan. Ojek. Ya, ojek di pintu pendakian Sembalun, Lombok Timur. Konyolnya, petugas Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) seperti membiarkan masuknya ojek-ojek sampai pos dua Tengengean ini.

Awalnya, kami cukup kaget dengan adanya gapura pendakian TNGR baru yang letaknya sekitar empat kilometer dari gapura lama Sembalun Lawang (samping pos BTNGR). Bergesernya gapura pendakian Sembalun ini otomatis memberikan peluang kepada warga setempat untuk membuka bisnis angkutan umum. Kini, dari gapura lama menuju gapura baru, pendaki bisa menggunakan jasa pick up dengan tarip Rp 150 ribu sekali jalan.
Tidak itu saja, bergesernya gapura batas kawasan TNGR ini pun otomatis melegitimasi pencaplokan kawasan taman nasional oleh sejumlah oknum serakah yang saat ini memang sudah menguasai lahan TNGR. Tidak tanggung-tanggung, bergesernya gapura ini lambat laun akan menghilangkan ratusan hektar kawasan TNGR di sekitar Sembalun. Artinya, ratusan hektar lahan TNGR di pintu pendakian Sembalun akan menjadi milik perorangan.
Otomatis juga, bergesernya gapura pendakian Sembalun ini akan menjadi babak baru persoalan pencaplokan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani. Ironisnya, pergeseran gapura ini dilakukan didepan mata  otoritas setempat.
Persoalan tidak sampai disitu. Ketika mobil pick up mulai beroperasi sampai gapura, ojek-ojek Sembalun tidak mau kalah. Ojek-ojek butut ini pun beroperasi sampai pos dua Tengengean. Taripnya hampir sama dengan ongkos mobil pick up tadi, Rp 150 ribu dari Sembalun lawang sampai pos dua.
Nyebelinnya, ketika para pendaki yang tengah letih berjalan menanggung beban di pundak, ojek-ojek ini seenaknya main gas sambil mencari penumpang. Keberadaan ojek ini tidak saja bikin kesal pendaki, tetapi bikin malu pendaki Lombok sebagai tuan rumah.

Pendaki pun dibuat selalu mengalah ketik ojek-ojek butut ini menyalip di jalur pendakian. Tak jarang sejumlah pendaki dibuat kesal dengan ulah ojek-ojek Sembalun ini. Parahnya, ojek-ojek gunung ini sudah punya pangkalan sendiri di pos dua Tengengean.
Hari itu, 15 Agustus 2017. Satu petugas kepolisian dan seorang petugas BTNGR terlihat berjaga-jaga di pos dua Tengengean.
Kedua petugas itu berjaga tidak jauh dari pangkalan ojek di pos dua tadi. Mereka seolah membiarkan aktifitas tukang ojek itu. “Ojek mas, Rp 150 ribu sampai bawah,” kata ojek-ojek itu menawarkan jasa.

Ojek butut liar yang Nyebelin

Lucunya, kedua petugas BTNGR itu justru melarang pendaki yang hendak menggunakan fasilitas shelter yang biasa dipakai pendaki untuk ngecamp di pos itu.
Alasannya, shelter di pos dua Tengengean itu akan dijadikan musalla. “Kalian tidak boleh ngecamp disini atau melakukan aktivitas masak-masak. Pos ini akan dijadikan musalla,” kata petugas BTNGR menghampiri kami.
Alhasil, Rinjani tidak saja dicoreng akan persoalan sampah yang tak kunjung usai. Kini, Rinjani dihadapkan kembali dengan ancaman penjarahan lahan taman nasional, ojek butut liar, dan pedagang bir yang kian menjamur. (*)

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top