You are here
Home > ADVENTURE > Potensi Kali Ninting yang Tertinggal – UTARAKITA

Potensi Kali Ninting yang Tertinggal – UTARAKITA

Sejak puluhan tahun silam, ribuan masyarakat menggantungkan hidupnya dari hasil tambang galian C di sepanjang aliran Kali Ninting. Dampak negatif eksploitasi aliran sungai ini memang cukup besar, namun dampak positifnya bagi peningkatan hidup dan pembangunan ternyata tak kalah besar. Kini, kali Ninting pun kian menyeramkan tatkala musim penghujan. Sekarang, aliran Kali Ninting yang 35 tahun lalu hijau dan asri tinggal kenangan. Yang ada hanya jeram-jeram menantang Kali Ninting yang bagus untuk riper tubbing alias eleh-elehan. Mari kita elehan-elehan polong!. (*)

Ini sungai ku, Kali Ninting.
Ini sungai ku, Kali Ninting.

APINK ALKAFF – UTARAKITA

Sungai Meninting atau yang kerap disebut Kali Ninting merupakan salah satu aliran sungai terbesar di Lombok Barat. Terbentang dari Dusun Murpadang, Desa Mekar Sari, Kecamatan Lingsar, sampai Desa Meninting, Kecamatan Batu Layar. Tidak kurang dari 10 desa dan ribuan warga di empat kecamatan yang menggantungkan hidup dari aliran Sungai Meninting ini.

Kandungan sumber daya alam Sungai Meninting ini terbilang cukup besar dibanding sungai-sungai lain di Lombok Barat. Aliran Sungai Meninting yang melintasi lima desa, Desa Penimbung, Desa Gegerung, Desa Mambalan, Desa Kekeri, dan Desa Ranjok, banyak mengandung tambang galian C jenis batu. Sedangkan aliran sungai yang melintasi lima desa, dari Desa Gunungsari, Sesela, Jati Sela, Sandik, dan Desa Meninting, kebagian sumber daya alam galian C jenis pasir.

Kondisi ini menyebabkan sebagian masyarakat di sepanjang aliran Sungai Meninting menggantungkan hidup dari hasil tambang galian C.

Meski eksploitasi telah dilakoni sejak puluhan tahun silam, namun hingga kini ribuan masyarakat di sepanjang aliran sungai masih menggantung hidupnya dari hasil tambang galian C Sungai Meninting. Lagi pula, sejauh ini bencana alam akibat eksploitasi tambang galian C di sungai ini belum terjadi.

Tidak bisa dipungkiri, penambangan galian C disepanjang aliran sungai ini memberikan dampak cukup besar bagi kerusakan lingkungan. Mulai dari terjadinya pendangkalan dan penyempitan aliran sungai sampai rusaknya ekosistem sungai.

Hulu Kali Ninting di Kampung Capung, Desa Bukit Tinggi, Gunungsari, Lobar.
Hulu Kali Ninting di Kampung Capung, Desa Bukit Tinggi, Gunungsari, Lobar.

Namun, harus diakui pula, bahwa pemanfaatan tambang galian C di sepanjang Sungai Meninting ini telah memberikan dampak positif sangat besar bagi peningkatan taraf hidup ribuan warga di sekitarnya. Bahkan bisa dibilang, sebagian besar pembangunan kantor dan gedung di Kota Mataram dan Lombok Barat berasal dari batu dan pasir Sungai Meninting ini.

Salah satu dampak positif pemanfaatan tambang galian C di sepanjang aliran Sungai Meninting ini bisa dilihat di Dusun Buwuh, Desa Mambalan, Kecamatan Gunungsari. Perubahan dan peningkatan taraf hidup warga di dusun ini cukup terlihat dan terasa sejak beberapa tahun terakhir ini. Karena kebetulan pula, saya lahir dan dibesar di Desa Mambalan ini.

Sekitar 18 atau 20 tahun silam, dusun yang dihuni 200 kepala keluarga atau sekitar 900 jiwa ini merupakan satu dari 12 dusun di Desa Mambalan, Kecamatan Gunung Sari yang tarap kehidupan rata-rata masyarakatnya tergolong paling rendah. Baik dari segi ekonomi maupun pendidikan.

Sebelum penambangan galian C marak, sebagian besar atau sekitar 90-95 persen rumah warga di Dusun Buwuh masih menggunakan bedek dan beratap ilalang. Sedangkan rumah yang bertembok dan berkeramik jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Bahkan, jumlahnya tidak lebih dari tiga atau empat rumah.

Eleh-elehan klasik
Eleh-elehan klasik

Kala itu, sebagian besar masyarakat dusun ini berprofesi sebagai penambang batu kali. Sisanya, menggantungkan hidup sebagai buruh tani. Dengan kondisi ini, bisa dipastikan ekonomi rata-rata warga Dusun Buwuh berada di bawah garis kemiskinan. Rendahnya perekonomian otomatis berdampak pada rendahnya taraf pendidikan. Tak heran, jumlah warga yang mengenyam pendidikan setingkat SMA dan perguruan tinggi tidak jauh berbeda dengan jumlah rumah bertembok atau berkeramik.

Sekitar tahun 1992, warga Dusun Buwuh yang lulus SMA bisa dihitung dengan jari. Yang kuliah juga tak lebih dari lima orang. Kehidupan warganya pada masa itu (92) memang sangat memprihatinkan. Rendahnya pendidikan dan rendahnya perekonomian memang sangat terasa.

Hulu Kali Ninting, Dusun Capung, Bukit Tinggi, Gunungsari.
Hulu Kali Ninting, Dusun Capung, Bukit Tinggi, Gunungsari.

Kini, dusun yang mayoritas penduduknya berprofesi sebagai buruh, tani, dan sopir dam truk ini merupakan dusun dengan taraf kehidupan yang cukup tinggi di Desa Mambalan. Semua rumah bedek dan beratap ilalang itu sudah berubah drastis menjadi rumah tembok dan berkeramik.

Buah manis ketekunan dan kerja keras warganya bisa dilihat dengan cukup jelas. Saat ini ada 35 unit dum truk milik warga Dusun Buwuh. ‘’Harga satu unit dum truk bekas berada pada kisaran Rp 50 juta sampai Rp 100 juta,’’ terang Jamaah, Kadus Dusun Buwuh yang lulusan SD ini.

Hanya saja, saat ini warga Dusun Buwuh sudah tidak lagi menambang galian C di aliran Sungai Meninting sekitar kampungnya. Tetapi, sebagian besar warganya menjadi sopir dan buruh angkut galian C. Pasalnya, area penambangan galian C di sekitar kampung itu sudah sirna. (*)

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top