You are here
Home > EKONOMI BISNIS > Rakernas ASITA di Lombok Menoreh Sejarah

Rakernas ASITA di Lombok Menoreh Sejarah

MATARAM – Rakernas ASITA (Association of the Indonesian Tours & Travel) ke-10 di Lombok kali ini menoreh sejarah baru. Selain karena kali pertama digelar di Lombok dan digandeng dengan International Halal Travel Fair (IHTF), rakernas dua hari ini (21-22 September 2016) ini dihadiri 29 ketua ASITA se-Indonesia.

Tidak itu saja, rapat kerja di Lombok ini juga dihadiri hampir seluruh pengurus DPP ASITA. ‘’Inilah Rakernas ASITA yang pertama periode kedua dan paling lengkap. Ini sejarah. Para senior kompak dan hadir semua,’’ ungkap Ketua DPP ASITA, H Asnawi Bahari dalam jamuan makan malam di Museum Negeri NTB, Rabu malam (20/9).

Menurut Asnawi, kehadiran sekitar 250 anggota ASITA dari seluruh Indonesia ini merupakan bentuk promosi pariwisata NTB yang sangat strategis. ‘’Kehadiran kami di sini sudah mempromosi NTB dengan murah dan meriah, namun promo ini tak ternilai,’’ ungkapnya.

Lombok ditunjuk sebagai tuan rumah rakernas ini jelas Asnawi, dalam rangka mendorong NTB sebagai destinasi unggulan setelah Bali. ‘’Kami akan terus mendorong daerah-daerah berkembang. Kami juga akan mendukung program-program yang mendapat penghargaan tingkat dunia. Seperti, penghargaan Best Halal Tourism yang diraih NTB,’’ ujarnya.

Karena Rakernas ASITA dirangkai dengan International Halal Travel Fair, welcome dinner ini di hadiri 30 buyers luar negeri. Antara lain, 20 buyers dari Malaysia, tiga Singapura, dan lima partner bisnis yang khusus menggarap wisatawan timur tengah.

Sejarah lain juga tercatat, IHTF 2016 ini juga merupakan even yang kali pertama digelar di Lombok dan di Indonesia.  ‘’Meski yang hadir baru beberapa negara, IHTF ini merupakan even pertama di Indonesia,’’ terang Kadis Kebudayaan dan Pariwisata NTB, HL Muhamad Faozal di hadapan buyers dan ratusan peserta Rakernas ASITA.

Tentu, kesempatan itu dimanfaatkan Faozal untuk membeberkan cerita pariwisata Lombok Sumbawa kepada para pelaku wisata seluruh Indonesia ini. Faozal optimis, kehadiran para pelaku wisata se-Indonesia ini bakal memenuhi target tiga juta wisatawan yang akan berkunjung ke Lombok dan Sumbawa. ‘’Kami punya 11 destinasi yang siap dipasarkan ASITA,’’ ujar Faozal.

Pariwisata kata Faozal, merupakan prioritas penting bagi Lombok Sumbawa. Selama 2015 lalu, pertumbuhan ivestasi pariwisata di Lombok Sumbawa meningkat 20 persen. ‘’Saat ini kami memiliki 5.800 kamar hotel yang siap menjamu wisatawan. Itu tidak termasuk kamar-kamar hotel di tiga gili Lombok Utara (Gili Trawangan, Meno, dan Air) dan gili-gili di Lombok Barat,’’ bebernya.

Mantan Kepala Museum NTB ini juga sempat menjelaskan seputar fasilitas Museum NTB yang belakangan menjadi salah satu destinasi utama wisatawan asing yang datang dengan kapal pesiar. Selama 2016 ini terang Faozal, tercatat 24 kapal pesiar yang sudah dan akan masuk Lombok.

Setiap paket kapal pesiar ini sambungnya, selalu menyantumkan museum berusia 35 tahun ini sebagai salah satu destinasi. ‘’Saat ini Museum NTB memiliki sekitar 7.500 koleksi. Karena masim minimnya tempat, hanya 10 persen yang bisa disuguhkan,’’ imbuhnya. (*)

Apink Alkaff

UTARAKITA
UTARAKITA
Portal berita dan petualangan yang menyajikan sudut pandang berbeda
Top