You are here
Home > INTERNASIONAL > Sembilan Negara Sahabat dan Sembilan Plakat Budaya Lombok

Sembilan Negara Sahabat dan Sembilan Plakat Budaya Lombok

‘’Dikbudpar dapat dua, Wartawan dapat tiga’’

Tanhana Dharmma Mangrva. Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia. Demikian tertulis di plakat kuning yang diperuntukkan bagi pelaku budaya Lombok dari berbagai unsur.

Plakat ini diberikan sebagai bentuk kenang-kenangan sekaligus pengakuan atas karya seseorang. Kali ini, kurikulum Lemhanas ini tengah mempelajari budaya lokal. Tepatnya, pengenalan Budaya Lokal Program Pendidikan Reguler (PPRA LIV) Lemhanas 2016 .

Menariknya, peserta pengenalan budaya Lombok ini berasal dari sembilan negara sahabat. Malaysia, Thailand, Kamboja, Yordania, Madagaskar, Fiji, Mali, Srilangka, dan Zimbabwe.

Penyerahan plakat dari Gubernur Lemhanas ini dikeluarkan atas penilaian langsung di lapangan. Usulan berawal dari Kapten Inf Sigit Hartadi SE (Penyaji Bahan Kegiatan Subdit Giattama Ditopsdik Debiddikpimtknas) kepada Kolonel Inf Sugeng Santoso SIP (Kasubdit Giattama Ditopsdik) yang diteruskan kepada Laksma TNI Riyadi Syahardani (Direvdik Debiddikpimtknas). Keputusannya ada ditangan Ketua Rombongan, Marsda AU Dedy Nita Komara (Tenaga Ahli Pengajar Bidang Ideologi).

Plakat pertama untuk Kadus Sade, Rembitan, Lombok Tengah, NTB.
Plakat pertama untuk Kadus Sade, Rembitan, Lombok Tengah, NTB.

Pelakat pertama diberikan pimpinan rombongan Marsda AU Dedy Nita Komara kepada Kadus Sade, Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Kenang-kenangan perdana ini diberikan karena upaya warga dusun tradisional ini dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan budaya dan tradisi kampungnya. Juga karena keunikan dusun penghasil tenun ikat khas Lombok Tengah tersebut.

Di Lombok Tengah rombongan disambut resmi Kadis Pariwisata bersama jajarannya. Bahkan, dua putri mutiara turut serta menyambut. Sedangkan di Pemda KLU, terkesan tidak berbuat banyak. Bukankah, mereka ini calon-calon pemimpin 10 negara? Alhasil, di hari kedua, saat kunjungan ke Gili Trawangan, tidak ada plakat yang dikeluarkan.

Plakat kedua untuk Kepala Museum NTB Ir Baiq Rahmayati.
Plakat kedua untuk Kepala Museum NTB Ir Baiq Rahmayati.

Di hari kedua, plakat kedua diberikan kepada Kepala Museum NTB, Ir Rahmayati. Plakat ini diharapkan bisa menjadi asupan semangat dalam menjaga, melestarikan, dan membuat rame Museum Negeri NTB.

Sontak saja, perempuan enerjik yang dipercaya memimpin gudang benda bersejarah peninggalan Lombok Sumbawa itu tampak bergairah.

Saking senangnya, Baiq Rahmayati ini sempat joget bareng istri ketua rombongan dan salah satu peserta program pengenalan budaya Lemhanas 2016 ini.

Plakat ketiga diberikan kepada Kepala Taman Budaya NTB, Faisal.
Plakat ketiga diberikan kepada Kepala Taman Budaya NTB, Faisal.

Masih di hari ketdua. Plakat ketiga diberikan kepada Faisal, Kepala Taman Budaya NTB yang baru dua minggu menjabat. Geliat positif budaya dan pariwisata Lombok Sumbawa bisa dinilai dari suasana dan atmosper arena pentas barunya. Artinya, tahun ini Kepala Dinas Kebudayaan NTB HL Muhammad Faozal mendapat dua plakat.

Seperti halnya KLU, Kota Mataram juga tidak merespon kedatangan rombongan Lemhanas ini.

Di Taman Mayura, tidak ada satupun aparat Pemkot Mataram yang menyambut. Praktis tidak ada aksi atau atraksi apa-apa di taman peninggalan Kerajaan Anak Agung ini. Airnya kolamnya tampak hijau pekat. Butek, kotor dan sepi pengunjung.

Plakaet keempat diberikan kepada dua Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Sesela, Gunungsari, Lombok Barat, NTB.
Plakat keempat diberikan kepada Sekolah Pedalangan Wayang Sasak, Sesela, Gunungsari, Lombok Barat, NTB.

Selanjutnya, plakat keempat di hari ketiga diserahkan kepada Sekolah Pedalangan Wayang Sasak di Desa Sesela, Gunungsari, Lombok Barat.

Kenang-kenangan ini diterima Kasek-nya Suhaimi, di dampingi pendiri dan penggagasnya, Abdul Latif Apriaman (wartawan) dan istrinya Vikong (Ketua Aliansi Jurnalis NTB).

Pasangan jurnalis ini dinilai memiliki semangat kuat dalam melestarikan budaya Wayang Sasak.

Bahkan, sekolah ini mendapat bantuan dana. Kata ketua rombongan, jangan melihat nilainya, yang penting niatnya. ‘’Karena tidak semua orang mau repot mengurus hal seperti itu,’’ ungkap Dedy Nita usai mengunjungi sekolah pedalangan sederhana di dalam kampung Sesela ini.

Plakat kelima diberikan kepada pengerajin emas dan perak H Ojik, Sekarbela, Mataram.
Plakat kelima diberikan kepada pengerajin emas dan perak H Ojik, Sekarbela, Mataram.

Di hari keempat, plakat kelima diberikan kepada owner Mutiara Lombok H Ojik di Sekarbela, Kota Mataram. Alumni Kelompok Pecinta Alam SMAN 3 Mataram dan alumni Mapala FE Unram ini diberikan atas karyanya dalam kerajinan emas dan perak.

Di galery ini, rombongan tampak cukup serius. Istri ketua rombongan dan beberapa peserta Pengenalan Budaya Lokal Lemhanas ini tampak pulang dengan tas jinjing belanjaan di tangan.

Tidak saja memberikan plakat, rombongan jenderal Lemhanas 2016 ini belanja cukup banyak. Khususnya cinderamata. Dan plakat ini diberikan setelah mereka menyelesaikan transaksi pembayaran.

Plakat keenam diberikan kepada pengerajin gerabah Banyu Mulek, Kediri, Lombok Barat, NTB.
Plakat keenam diberikan kepada pengerajin gerabah Banyu Mulek, Kediri, Lombok Barat, NTB.

Di hari keempat, plakat keenam diberikan kepada Karyadi, pejabat di Dinas Perdagangan Lombok Barat. Tentu, selain memberikan kenang-kenangan, beberapa jenderal juga membeli cukup banyak oleh-oleh.

Di pasar seni Banyu Mulek ini, peserta tampak antusias belajar membuat gerabah. Bahkan, Kolonel dari Thailand Sok Nousan mencoba membuat patung  sapi dan patung gajah.

Di tempat ini, pimpinan rombongan sangat terkesan dengan ceret maling. Tempat air minum yang airnya dimasukan dari bawah. ”Beli ceret maling ini ya pah,” kata Nyonya Dedy Nita di showroom gerabah Lombok Barat.

Di hari terakhir, rombongan Lemhanas diundang Dikbudpar NTB untuk berbuka puasa bersama budayawan, insan media, dan sejumlah general menejer hotel se-Lombok Sumbawa.

Plakat ketujuh diberikan kepada Sekda NTB yang baru DR Rosiady Sayuti.
Plakat ketujuh diberikan kepada Sekda NTB yang baru DR Rosiady Sayuti.

Kali ini, giliran Sekda NTB Rosiady Sayuti yang mendapat apresiasi dengan diberikan plakat ketujuh.

Saking semangatnya melihat sembilan calon pemimpin negara sahabat, mantan Kepala Bappeda NTB berpidato dengan bahasa Inggris.

Bahkan, ustadz yang mengisi tausiah sembilan menit juga ceramah dalam bahasa Inggris yang fasih.

Sekda yang menjabat kurang sebulan ini juga mendapat kenang-kenangan cantik atas nama pemerintah Kamboja yang diserahkan Kolonel AD Sok Nousan, Komandan Sekolah Para 2 Komando pasukan khusus Kamboja.

Plakat kedelapan diberikan kepada wartawan senior dan penulis buku budaya berbahasa Inggris.
Plakat kedelapan diberikan kepada Ahmad YD, wartawan senior dan penulis buku budaya berbahasa Inggris.

Di ujung acara, pimpinan rombongan bertemu Ahmad YD, wartawan senior NTB yang telah melahirkan buku budaya berbahasa Inggris. Spontan, pimpinan rombongan kembali mengeluarkan plakat kedelapan untuk penulis senja ini.

Terakhir, pelakat kesembilan diserahkan kepada wartawan media online utarakita.com.
Terakhir, pelakat kesembilan diserahkan kepada wartawan media online utarakita.com. Apink Alkaff

Dan plakat kesembilan atau plakat terakhir kembali diberikan kepada perwakilan jurnalis. Plakat Gubernur Lemhanas 2016 ini diberikan kepada Apink Alkaff, wartawan online utarakita.com. Alasannya, karena keberpihakan utarakita.com yang cukup intens menulis berita wisata selama delapan bulan terakhir. Tepatnya, sejak 17 Agustus 2015 lalu.

Selain itu, juga lantaran portal news and adventure ini turut mengabadikan dan menulis sisi lain program pengenalan budaya Lombok. Tepatnya, selama empat hari, mulai Senin pagi (27/6) sampai Kamis malam (30/6).

‘’Nanti kalau saya mengadakan program seperti ini di Kalimantan Barat, saya akan ajak kerjasama media online,’’ kata Kolonel Inf Sugeng Santoso yang merasa puas dengan jalannya seluruh kegiatan Lemhanas di Lombok.

Dari sembilan plakat budaya Lombok ini, wartawan dapat tiga, Dikbudpar NTB dapat dua, pengerajin dapat dua,Sekda NTB dan Kadus Sade masing-masing dapat satu. (*)

Apink Alkaff   

 

 

 

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top