You are here
Home > ADVENTURE > Susuri Koko’ Puteq, Jalur Tua Manuju Rahim Anjani

Susuri Koko’ Puteq, Jalur Tua Manuju Rahim Anjani

’ Jika jalur Sajang menyusuri tebing timur Bukit Penyesalan, jalur Torean justru menyusuri tebing barat Sangkareang’’
Menyusuri kali (sungai) untuk mencapai pusat matakali merupakan salah satu ‘’trek kuno’’ yang kerap dilakoni para pendahulu. Perjalanan dan menelusuri airan air ini bisa dikatakan adalah cara alami manusia untuk mencari sumber kehidupan.
Dari ratusan aliran sungai yang turun menyusuri lembah-lembah Rinjani, Koko’ Puteq adalah satu-satunya, aliran air yang langsung bersumber dari rahim Dewi Anjani, Segara Anak.

Sungai ini terletak diantara Sajang, Lombok Timur dan Torean, Lombok Utara. Batas alam yang memisahkan dua kabupaten di sisi utara pulau Lombok ini. Juga merupakan satu-satunya etalase alam yang berhubungan langsung dengan aktivitas kegunungapian Rinjani.

Limpahan Danau Segara Anak ke Koko’ Putek.

Dalam bahasa Sasak, Koko’ Puteq bermakna sungai putih. Sungai dengan kadar belerang tinggi berwarna kuning keputih-putihan.
Sebelum dibukanya jalur pendakian konvensional Senaru di Lombok Utara dan Sembalun di Lombok Timur, masyarakat tradisional Lombok sudah lebih dulu mengenal jalur Torean dan Sajang.
Kedua jalur kuno ini sifatnya alami. Yakni, sama-sama menyusuri sisi-sisi aliran air Kokok Puteq. Jika jalur Sajang menyusuri tebing timur Bukit Penyesalan, jalur Torean justru menyusuri tebing barat Sangkareang.
Menariknya, kedua jalur tradisonal ini merupakan jalur tersingkat menuju rahim Anjani (Segara Anak). Dari Torean atau Sajang, dibutuhkan sekitar delapan sampai 10 jam untuk sampai Sagara Anak.
Saking pendeknya, di jalur Sajang ini masih ada pipa aliran air bersih warga setempat yang sumber airnya tak jauh dari Telaga Urung, Goa Susu, Segara Anak, Rinjani. Hingga kini, masyarakat tradisional dan pendaki Lombok masih tetap menggunakan jalur ini untuk bisa lebih cepat mencapai Segara Anak.

Salah satu air terjun di aliran sungai Koko’ Puteq.

Krennya lagi, kedua jalur ini menyuguhkan pemandangan tebing dahsyat dengan rangkaian air terjun putihnya. Sedikitnya, lima air terjun besar bisa dinikmati jika memilih kedua jalur kuno ini.
Salah satu air terjun yang paling menakjubkan di jalur ini adalah air terjun Penimbung atau Penimbungan. Air terjun putih di antara lembah Sajang-Torean.
Hanya saja, akses untuk mencapai air-air terjun itu jarang dijamah dan cukup sulit. Maklum, pendaki lebih memilih langsung menikmati pusat air terjun tertinggi di Aik Kalak, Segara Anak. Pendaki, lebih memilih menikmati panasnya bekalak (mandi air belerang) di Aik Kalak ketimbang berendam di hangatnya tibu-tibu air terjun itu.
Dalam Bahasa Belanda, nama Kalak itu sendiri bermakna belerang atau sulfur. Nah, Aik Kalak inilah merupakan puncak aliran air sungai putih belerang antara Torean dan Sajang. Bahkan, bekalak ini merupakan puncak kenikmatan setiap pendakian di Gunung Rinjani.
Bahkan, sebagian masyarakat Muslim, Budha, dan Hindu, menganggap perjalanan bekalak ini merupakan perjalanan sakral untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Selain untuk kebutuhan batin, bekalak juga merupakan kebutuhan zahir bagi sebagian masyarakat. Terutama yang bagi yang mengidap penyakit kulit.
Jika hati anda bergetar atau badan terasa gatal setelah membaca tulisan ini, berarti anda sedang merindukan nikmatnya bekalak lagi di rahim Anjani. (*)
Selamat Hari Air Sedunia
Apink Alkaff

apink alkaff
apink alkaff
Tentang penulis: Lahir di Mambalan, Gunungsari, Lombok Barat, NTB. Pernah bekerja sebagai wartawan Lombok Post selama 10 tahun (2002-2012). Juga pernah menjadi kuli tinta di Jawa Pos News Network (2007-2008). Sempat juga menjadi jurnalis LKBN Antara Mataram (2015). Dan kini, menulis di Utarakita.com
http://utarakita.com
Top