Rinjani Harus Segera Dibuka

0
799

Mataram – Dunia pariwisata Lombok-Sumbawa benar-benar sedang diuji. Setelah diguncang gempa, iklim pariwisata Lombok-Sumbawa dihantam mahalnya tiket pesawat. Tidak itu saja, pariwisata NTB juga diterpa badai bagasi berbayar yang diberlakukan maskapai Lion Air Group.
Tidak sedikit upaya yang sudah dilakukan untuk membangkitkan sektor andalan ini. Namun, hasilnya masih jauh dari harapan.
Betapa tidak, sejak Juli 2018 hingga kini, pintu pendakian Rinjani masih ditutup. Sementara Taman Nasional Gunung Rinjani ini merupakan jantung pariwisata NTB.

Untuk itu, Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Muhammad Faozal menegaskan, pintu pendakian Rinjani harus segera dibuka. “Akhir Maret 2019 ini Rinjani harus dibuka,” ungkap Faozal dalam Rapat koordinasi Akselerasi dan Sinkroninasi Program Kepariwisataan Lombok-Sumbawa Pascabencana di Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, NTB, Rabu (20/2).

Rapat koordinasi Akselerasi dan Sinkroninasi Program Kepariwisataan Lombok-Sumbawa Pascabencana di Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, NTB, Rabu (20/2).

Memang kata Faozal, setiap tahun pada bulan-bulan seperti ini (Januari-Maret) pintu pendakian Rinjani kerap ditutup. Alasannya, karena faktor cuaca. “Pascagempa ada dua destinasi wisata yang belum normal yakni jalur pendakian Gunung Rinjani dan juga Masjid Hubbul Wathan di Kompleks Islamic Center,” jelasnya.
Faozal menyebutkan, Rinjani harus segera.dibuka karena akan ada agenda rutin tahunan, Rinjani 100 yang sebagian pesertanya dari luar negeri. “Hingga saat ini sudah ada 4 ribu peserta yang sudah daftar ikut (event lari) Rinjani 100,” ujar Faozal.
Rinjani 100 terang Faozal, merupakan ajang wisata olahraga andalan Lombok yang menarik ribuan pelari dari luar negeri. Bahkan kata dia, event ini sudah mendunia dan harus kita siapkan dengan membuka Rinjani secepatnya.
Tidak itu saja, Gunung Samalas juga menjadi sandaran hidup ribuan masyarakat Lombok. Dan, paket petualangan Rinjani  menjadi dagangan unggulan sebagian besar agen wisata Lombok.
Selain Rinjani, kerusakan karena gempa juga dialami Islami Center. Sehingga operasional ikon wisata religi Lombok itu belum dapat beroperasi secara normal.
“Dinas PU menyampaikan pada akhir Februari ini semua akan normal dan perbaikan sudah selesai. Alhamdulillah kita juga diberikan sumbangan lampu senilai Rp 1,5 miliar dari Kemenpar, hampir sama nanti bentuknya dengan Masjid Nabawi,” sebut Faozal
Faozal tidak memungkiri jika kondisi pariwisata NTB saat ini belum sepenuhnya normal. Faozal menilai wisatawan masih trauma dengan bencana gempa yang melanda NTB. Kondisi ini, kata Faozal, diperparah dengan harga tiket pesawat dan penerapan bagasi berbayar yang membuat banyak pembatalan penerbangan dan juga pengurangan frekuensi penerbangan ke Lombok.
“Kondisi ini terjadi di seluruh Indonesia. Memang hampir menjerit pelaku industri wisata yang tentu tidak mungkin menjual paket murah,” kata Faozal. Faozal berharap rakor ini bisa mencari solusi atas sejumlah persoalan yang membelit sektor pariwisata NTB saat ini. (*)
Apink Alkaff